Halo
Pembaca

VIVANetworks

News

Pilkada

Bola

Sport

Showbiz

LifeStyle

Otomotif

Digital

Ragam

Militer

Netizen

Lintas

Informasi

Limbah Infeksius COVID-19 Masih Ditemukan di TPA

Sabtu, 24 Oktober 2020 | 09:21 WIB
Oleh :
Foto :
  • bbc
Ketua KPNas, Bagong Suyoto menunjukkan limbah B3 medis di TPA Burangkeng, di antaranya selang infus yang masih berisi dari darah pasien.-BBC

Limbah infeksius atau Bahan Berbahaya dan Beracun (B3) medis yang diduga berasal dari rumah sakit, klinik, puskesmas atau fasilitas layanan kesehatan (fasyankes) kerap ditemukan selama masa pandemi Covid-19 di Tempat Pembuangan Akhir (TPA).

Perhimpunan Rumah Sakit Indonesia (PERSI) mengeluhkan minimnya fasilitas pengolahan limbah B3 medis, dan `kebingungan mau diapakan`.

Baca Juga

Pemerintah mencatat terjadi peningkatan hingga 30% limbah B3 medis di masa pandemi, dengan rencana menambah fasilitas pengelolaan yang sejauh ini masih berpusat di Pulau Jawa.

BBC
Temuan limbah B3 medis di TPA Burangkeng di tengah pandemi Covid-19

 

Sementara, aktivis lingkungan menilai masih ditemukannya limbah B3 medis di TPA, merupakan bentuk kelonggaran dan pengabaian atas masalah lingkungan dan manusia.

Deretan truk sampah berbaris di jalur Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Burangkeng, Kabupaten Bekasi, Jawa Barat. Satu persatu sampah dari punggung truk dikeruk eskavator menjadi `bukit sampah baru`.

Setidaknya setiap hari sekitar 750 ton sampah dari rumah tangga, pabrik, pertokoan, perkantoran di 16 kecamatan di Kabupaten Bekasi berakhir di TPA ini.

Lahan seluas 11,6 hektar telah menjadi perbukitan sampah setinggi hingga 20-30 meter dari permukaan jalan.

BBC
Sarung tangan karet yang biasa digunakan dalam medis ditemukan di TPA Burangkeng.

 

Ketua Koalisi Persampahan Nasional (KPNas), Bagong Suyoto berada di tengah-tengah gunungan sampah. Hanya beberapa menit berjalan menelusuri lokasi TPA Burangkeng, ia menemukan rangkaian botol infus yang masih lengkap dengan jarumnya.

"Kayaknya darahnya juga masih ada nih. Saya ambil lagi. Ini jadi urusan domain pemerintah, urusan B3 ini, limbah infeksius ini. Jadi ternyata banyak," kata Bagong sambil mengangkat beberapa selang infus yang bercampur dengan limbah rumah tangga, Rabu (14/10).

Tak jauh dari lokasi sampah rangkaian botol infus, juga ditemukan masker, baju pasien untuk operasi, dan sarung tangan karet yang biasa digunakan di fasilitas layanan kesehatan.

BBC
Buangan selang infus di antara tumpulkan sampah rumah tangga di TPA Burangkeng

 

"Ini ternyata juga di beberapa titik kita juga menemukan bekas sarung tangan. Jadi ini memang, TPA ini menjadi sasaran pembuangan limbah medis," kata Bagong yang ditemui wartawan BBC News Indonesia, Muhammad Irham.

Di antara barisan mobil besar, Paminan, 50 tahun, berdiri di atas salah satu truk sampah. Mengorek-ngorek punggung truk, berharap ada material yang bisa ia jual.

Paminan sudah menjadi pemulung hampir tiga dekade, mengaku menemukan limbah medis untuk dipilih dan dijual lagi.

BBC
Paminan, 50 tahun, sudah menjadi pemulung sejak 28 tahun lalu. Ia menghidupi keluarganya dari barang-barang bekas yang ditemukan di antara sampah rumah tangga di TPA Burangkeng, Kabupaten Bekasi, Jawa Barat.

 

"(Botol infus) diambil, cuma yang nggak ada airnya, kan sudah termasuk bahan limbah. (Masker, hazmat, sarung tangan karet) Nggak diambil," kata kakek 12 cucu ini.

Paminan tak punya pilihan untuk berjibaku dengan tumpukan sampah, yang telah bercampur dengan limbah medis. Antara takut dengan tidak takut penularan Covid-19, ia mengatakan "Kita bilang takut, ya namanya cari (uang) di sini. Dibilang nggak takut, ya takut."

Pemulung lainnya, Arsanah, 45 tahun, sudah biasa menemukan limbah medis, termasuk botol infus yang masih lengkap dengan jarumnya.

"Dibungkus, di plastik. Saya sobek, ada gitu, saya gunting, jarumnya dibuang, botolnya saya ambil, masih ada airnya kan. Kalau dijual Rp2 ribu (per kilogram), campur-campur, sama tutup gallon (air), sama infusan itu," katanya.

BBC
Harsanah, pemulung di TPA Burangkeng, memilah sampah daur ulang untuk dijual dengan harga Rp400 - 2000 per kilogram.
Lihat artikel asli
Topik Terkait
Saksikan Juga
Terpopuler