Halo
Pembaca

VIVANetworks

News

Bola

Sport

Showbiz

LifeStyle

Otomotif

Digital

Ragam

Militer

Netizen

Lintas

Informasi

Prancis Tindak Keras Islam Radikal di Tengah Cekcok dengan Turki

Selasa, 27 Oktober 2020 | 15:52 WIB
Oleh :
Foto :
  • bbc
BBC Indonesia

Masjid di Pantin, yang terletak di timur laut kota Paris, menjadi satu pertanda bahwa ada yang berbeda kali ini.

Bangunan itu, berbentuk seperti hanggar pesawat terbang dengan jendela kecil bertengger tinggi di dindingnya yang bergelombang, kini kosong dan ditutup.

Baca Juga

Di luarnya ada pemberitahuan resmi, dilaminating dengan plastik supaya tidak basah karena hujan, mengumumkan penutupan paksa oleh pemerintah karena "keterlibatan dalam gerakan Islam", dan karena turut membagikan video media sosial yang menyasar guru Samuel Paty.

AFP
A shocked nation mourned Samuel Paty

 

Getty Images
Masjid Pantin - ditutup oleh pemerintah Prancis.

 

Tindakan keras pemerintah Prancis terhadap Islamisme radikal, sebagai tanggapan atas pemenggalan guru sejarah di luar Paris bulan ini, berlangsung cepat dan tegas — rentetan penyelidikan, penutupan, rencana, dan proposal yang kadang-kadang sulit diikuti.

"Ketakutan akan berganti sisi," kata Presiden Emmanuel Macron seperti dikutip Dewan Pertahanan pekan lalu.

Pemerintah mengumumkan lebih dari 120 penggeledahan rumah individu, pembubaran asosiasi yang dituduh menyebarkan retorika Islamis, rencana menyasar pendanaan teroris, dukungan baru untuk guru, dan tekanan baru pada perusahaan media sosial untuk mengawasi konten secara lebih efisien.

Tindakan dalam skala seperti ini tidak pernah dilakukan setelah serangan lain dalam masa jabatan Presiden Macron, meskipun pernah terjadi pembunuhan kejam terhadap sekitar 20 orang, di antaranya petugas polisi, seorang perempuan muda di stasiun kereta api, dan orang-orang yang sedang berbelanja di pasar Natal. Jadi apa yang berbeda sekarang?

Pengawasan lebih luas

Jerome Fourquet adalah seorang analis politik dan direktur lembaga pemungutan suara IFOP. Ia percaya bahwa serangan kali ini berbeda, baik dalam hal kebrutalannya maupun targetnya yaitu seorang guru, dan bahwa telah terjadi "perubahan haluan" dalam pemerintahan.

"Kami tidak lagi berurusan dengan jaringan jihadis yang terorganisir," ujarnya, "tetapi seorang teroris yang berasal dari negara kami sendiri, seorang individu terisolasi yang teradikalisasi.

Lihat artikel asli
Topik Terkait
Saksikan Juga
Terpopuler