Menlu Prancis Kecam Presiden Erdogan

Source : Republika
Sumber :
  • republika

"Saya tidak akan mengizinkan siapa pun untuk mengklaim bahwa Prancis, atau pemerintahnya, mendorong rasisme terhadap Muslim," kata Macron.

Sebuah artikel opini yang ditulis oleh koresponden Financial Times dan diterbitkan pada Selasa (3/11) menuduh bahwa kecaman Macron atas "separatisme Islam" berisiko mendorong lingkungan yang tidak bersahabat bagi Muslim Prancis.

Artikel tersebut kemudian dihapus dari situs web koran tersebut dan diganti dengan pemberitahuan yang mengatakan bahwa artikel tersebut mengandung kesalahan faktual.

Dukungan yang diperbarui untuk hak menampilkan karikatur Nabi Muhammad datang di tengah persidangan atas serangan mematikan tahun 2015 terhadap staf di Charlie Hebdo. Majalah satir menerbitkan ulang gambar-gambar itu saat persidangan dimulai.

Sejak perselisihan antara Macron dan Erdogan, mereka telah mencetak karikatur provokatif dari pemimpin Turki yang semakin membuat marah Pemerintah Turki.

Dukungan juga datang setelah bulan lalu terjadi pembunuhan guru Samuel Paty yang menunjukkan kartun Nabi Muhammad di kelasnya.

Menyusul protes dan boikot barang-barang Prancis di seluruh dunia, Macron mengatakan kepada Al Jazeera selama akhir pekan bahwa dia memahami karikatur itu bisa mengejutkan bagi sebagian orang.

Namun mengingat gelombang serangan di Prancis sejak 2015, Macron memperingatkan dalam suratnya pekan ini bahwa masih ada tempat berkembang biak untuk ekstremisme di Prancis.

"Di distrik tertentu dan di internet, kelompok-kelompok yang terkait dengan Islam radikal mengajarkan kebencian terhadap republik, kepada anak-anak kami, meminta mereka untuk mengabaikan hukumnya," tulis Macron.

"Inilah yang diperjuangkan Prancis, (melawan) kebencian dan kematian yang mengancam anak-anaknya, (Prancis) tidak pernah melawan Islam. Kami menentang penipuan, fanatisme, ekstremisme kekerasan. Bukan (menentang) agama," ujarnya.