Halo
Pembaca

VIVANetworks

News

Pilkada

Bola

Sport

Showbiz

LifeStyle

Otomotif

Digital

Ragam

Militer

Netizen

Lintas

Informasi

PBB: Pandemi COVID-19 Menambah Beban bagi Perempuan

Kamis, 26 November 2020 | 14:13 WIB
Oleh :
Foto :
  • bbc
BBC

Pandemi virus corona dapat menghapus perjuangan selama 25 tahun dalam menciptakan kesetaraan gender, menurut data global terbaru lembaga yang menangani kesetaraan gender di bawah naungan PBB yaitu UN Women.

Berdasarkan data itu, kaum perempuan kini lebih banyak melakukan pekerjaan rumah tangga dan mengurus keluarga akibat dampak Covid-19.

Baca Juga

"Semua yang kami kerjakan, yang telah menghabiskan 25 tahun, bisa hilang hanya dalam setahun," kata Wakil Direktur Eksekutif UN Women Anita Bhatia.

Kesempatan mendapatkan akses atas pekerjaan dan pendidikan bisa hilang, dan perempuan mungkin menderita kesehatan mental dan fisik yang lebih buruk.

Beban dalam merawat dan mengasuh menimbulkan "risiko nyata untuk kembali ke stereotipe gender era 1950-an", kata Bhatia.

Bahkan sebelum pandemi, diperkirakan perempuan melakukan sekitar tiga perempat dari 16 miliar jam kerja tidak berbayar di seluruh dunia setiap harinya.

Dengan kata lain, setiap satu jam pekerjaan tidak dibayar yang dilakukan oleh laki-laki, tiga jam dilakukan oleh perempuan. Sekarang angka itu jauh lebih tinggi.

BBC

 

"Jika jumlahnya tiga kali lebih banyak dari laki-laki sebelum pandemi, saya jamin sekarang setidaknya jumlah itu kini berlipat," kata Bhatia.

Meskipun 38 survei yang dilakukan oleh UN Women utamanya berfokus pada negara-negara berpenghasilan rendah dan menengah, data dari negara-negara industri yang lebih maju juga menunjukkan gambaran serupa.

BBC

 

"Yang lebih mengkhawatirkan adalah kenyataan bahwa kini banyak perempuan tidak kembali bekerja saat pandemi," kata Bhatia.

"Pada bulan September saja, di Amerika Serikat, sekitar 865.000 perempuan keluar dari angkatan kerja, bandingkan dengan 200.000 pria. Sebagian besar karena ada beban perawatan [pekerjaan rumah] dan tidak ada orang lain yang bisa mengerjakan."

UN Women memperingatkan bahwa efek riak dari berkurangnya jumlah perempuan yang bekerja akan berdampak buruk tidak hanya pada kesejahteraan perempuan tetapi juga kemajuan ekonomi dan kemandirian perempuan.

BBC 100 Women mewawancarai tiga perempuan untuk melihat bagaimana pandemi berdampak pada pekerjaan mereka.

Mereka diminta untuk membuat catatan waktu yang menjelaskan bagaimana mereka mengisi jam demi jam setiap harinya, selama 24 jam.

`Saya mencapai batas kesabaran setiap hari`

TENI WADA
"Saya mencapai batas hampir setiap hari, putri saya akan menangis dan kemudian saya akan menangis."

 

Sebelum pandemi, perempuan di Jepang bekerja rata-rata hampir lima kali lebih lama daripada laki-laki untuk pekerjaan rumah tangga yang tidak dibayar.

Teni Wada adalah konsultan merek yang berbasis di Tokyo. Ia bekerja paruh waktu sebagai guru PAUD sebelum lockdown dimulai.

"Sekarang jam 5 pagi dan saya sedang berusaha menyelesaikan pekerjaan ini. Tenggat waktunya bukan dalam beberapa hari mendatang, tapi saya ingin berada selangkah di depan. `Kehidupan ibu` tidak dapat diprediksi, dan saya tidak ingin ketidakpastian ini membebani saya dengan tagihan," tulisnya dalam buku hariannya.

Lihat artikel asli
Topik Terkait
Saksikan Juga
Terpopuler