Murdoch University Akhirnya Lanjutkan Program Bahasa Indonesia

Murdoch University sekarang membatalkan rencana untuk menutup program jurusan bahasa Indonesia yang sudah dibuka sejak tahun 1975.
Sumber :
  • abc

Murdoch University di Perth, Australia telah menarik kembali keputusan mereka untuk menutup program Bahasa Indonesia, sementara La Trobe University di Melbourne yang mengungkapkan hal yang sama, baru akan mengeluarkan keputusan akhir mereka pada Januari 2021.

Murdoch Uni Batalkan Keputusan:
- Murdoch University di Perth membatalkan rencana penutupan jurusan bahasa Indonesia
- La Trobe University baru akan mengambil keputusan akhir di bulan Januari 2021
- Rencana penutupan ini mendapat kecaman dari kalangan akademisi di Australia

Pembatalan Murdoch University tersebut diungkapkan oleh salah seorang pengajar senior di sana Ian Wilson dalam cuitannya di Twitter hari Rabu (16/12/2020).

"Ada berita bagus. Program bahasa Indonesia akan tetap berlanjut di Murdoch University. Menanggapi banjirnya masukan, surat dukungan dan advokasi, manajemen senior universitas membatalkan keputusan untuk menutup program. Terima kasih untuk semua yang sudah memberikan dukungan," tulis Ian Wilson.

Sebelumnya Murdoch University mengatakan telah mengambil keputusan yang sulit untuk menutup program bahasa Indonesia pada tahun 2021.

"Kami menyesali rencana penangguhan penawaran program kuliah bahasa Indonesia ini, namun dengan kurang dari sepuluh orang yang mendaftar setiap tahunnya selama tiga tahun terakhir, maka sulit dilakukan," ujar juru bicara Murdoch University kepada ABC Indonesia.

ABC Indonesia masih belum mendapat konfirmasi resmi dari Murdoch University mengenai pembatalan penutupan jurusan bahasa Indonesia tersebut.

Program pengajaran bahasa Indonesia di Murdoch University sudah dimulai sejak tahun 1975 dan sebelumnya, salah seorang pengajar universitas tersebut yang sudah pensiun, Profesor David Hill, menyebut rencana Murdoch University sebagai keputusan "horor dan mengejutkan".

"Sebuah universitas yang memiliki program bahasa Indonesia yang sudah begitu lama dan terpandang, kemudian mengambil tindakan tersebut, jelas bertentangan dengan kepentingan Australia," ujar Profesor David yang pernah 25 tahun mengajar di sana.

Murdoch University bukan satu-satunya universitas yang berencana untuk menutup program Bahasa Indonesia.

Bulan November lalu, La Trobe University juga mengumumkan rencana menutup program bahasa Indonesia yang ada sejak tahun 1989.

Namun, belum diketahui apakah universitas tersebut pada akhirnya akan melakukannya.

Ketika sebuah universitas berencana untuk menutup jurusan tertentu, mereka memiliki masa konsultasi, di mana pengelola universitas akan mendengarkan masukan dari berbagai kalangan sebelum mengeluarkan keputusan akhir.

Menurut Linda Sukamta, Kepala Program Jurusan Bahasa Indonesia di La Trobe University, universitas tersebut awalnya mengatakan akan memberikan keputusan pada tanggal 15 Desember.

Belum ada keputusan sejauh ini. Diundur sampai akhir Januari 2021," kata Linda Sukamta kepada wartawan ABC Indonesia Sastra Wijaya hari Kamis (17/12/2020).

Menurut Linda, universitas tersebut belum mengambil keputusan karena masih berkonsultasi dengan pemangku kepentingan atau "stakeholders" dari luar universitas.

Linda yang sudah mengajar di sana sejak tahun 2011 mengatakan menerima banyak sekali dukungan untuk membatalkan keputusan penutupan oleh La Trobe University tersebut.

"[Dukungannya berasal] dari pihak luar, kebanyakan dari kalangan akademisi. Dari dalam universitas sendiri juga banyak. Banyak dari mantan mahasiswa dan juga mahasiswa yang sekarang masih belajar menulis surat keberatan," kata Linda lagi.


La Trobe University di Melbourne sudah menawarkan program Bahasa Indonesia selama lebih dari 31 tahun. (Facebook: La Trobe Bahasa Indonesia Students Association)

Program bahasa Yunani dapat bantuan dari komunitas

Dalam pengumuman awal, La Trobe University mengatakan juga akan menghentikan jurusan bahasa lain, yaitu bahasa Hindi (India) dan bahasa Yunani.

Namun menyusul keterlibatan masyarakat Yunani di Melbourne, program bahasa Yunani di universitas tersebut berhasil diselamatkan dan akan berlanjut setidaknya sampai tahun 2023.

Ini disebabkan adanya sumbangan dana serta bantuan bagi penambahan jumlah siswa yang akan belajar bahasa Yunani di universitas tersebut.

Menurut perkumpulan Masyarakat Yunani di Melbourne, sebuah organisasi resmi yang mewadahi masyarakat keturunan Yunani, akan memberikan sumbangan dana sebesar A$192 ribu (sekitar Rp1,9 M) selama tiga tahun.

Sensus tahun 2016 mencatat jumlah warga keturunan Yunani di Melbourne mencapai sekitar 175 ribu orang, dan merupakan jumlah masyarakat Yunani terbesar di dunia di luar Yunani.

Beberapa narasumber yang berbicara dengan ABC mengatakan apa yang dilakukan masyarakat Yunani di Melbourne ini bisa menjadi contoh cara menyelamatkan program bahasa Indonesia di La Trobe.

"Masih ada kemungkinan program bahasa Indonesia di La Trobe tidak dihentikan," kata sumber yang tidak mau disebutkan namanya kepada ABC Indonesia.

"Pihak universitas menurut saya masih menungggu apakah ada usulan dari pihak luar, entah itu pemerintah Australia, atau pemerintah Indonesia, atau masyarakat Indonesia untuk memberikan bantuan keuangan. Ini sepenuhnya masalah ekonomi, bukan masalah ideologi."


Perkumpulan Warga Yunani di Melbourne mencapai persetujuan mendukung program bahasa Yunani di La Trobe University. (Foto: K Deves/neokosmos.com)

Kritikan dari akademisi mengenai rencana penutupan

Keputusan sebelumnya dari La Trobe dan Murdoch University untuk menutup program jurusan bahasa Indonesia mendapat sorotan, terutama di kalangan akademisi di Australia.

Menurut Profesor Edward Aspinall, Presiden Asosiasi Studi Asia di Australia, dalam konteks politik saat ini, justru hubungan Indonesia dengan Australia menjadi lebih penting.

"Dengan hubungan Australia dengan China yang semakin memburuk, hubungan kita dengan Indonesia, negeri dengan penduduk 270 juta jiwa yang terus naik peringkatnya dalam jajaran ekonomi terbesar di dunia, semakin penting," tulis Aspinall dalam artikel berjudul Turning Away from Indonesia baru-baru ini.  

"Jadi Anda berpikir bahwa pengajaran Bahasa Indonesia seharusnya menjadi prioritas nasional. Tetapi ternyata jawabannya adalah tidak bagi warga Australia," tulisan Aspinall yang juga adalah akademisi di Australian National University (ANU) di Canberra.

"Pengajaran bahasa Indonesia di sekolah dan universitas Australia terus menurun. Sekarang mungkin sudah di taraf sekarat."

Dalam artikel yang dimuat di inside story tersebut, Edward menggambarkan apa yang akan terjadi bila nantinya pengajaran bahasa Indonesia hilang sama sekali.

"Pengajaran Bahasa Indonesia mengirimkan pesan bahwa Australia memandang tetangga besar di sebelah utara ini sebagai negara yang pantas dihormati," tulisnya.

"Ini cara menunjukkan bahwa Australia berarti khusus bagi Indonesia, bukan sekadar salah satu negara yang antre guna mendapatkan keuntungan dari pertumbuhan ekonomi Indonesia." (ren)