Jurnalis Perempuan Meksiko Dibunuh padahal Pernah Mengadu ke Presiden

Ilustrasi penembakan.
Sumber :
  • Pixabay/stevepb

VIVA – Seorang perempuan jurnalis Meksiko, yang pada Minggu (23/1) ditemukan tewas akibat tembakan, tiga tahun lalu pernah mengadu kepada Presiden Andres Manuel Lopez Obrador bahwa dia takut karena nyawanya terancam.

Lourdes Maldonado, seorang jurnalis lokal dengan pengalaman puluhan tahun, ditembak mati di mobilnya di kawasan Santa Fe di kota perbatasan Tijuana yang ramai, yakni tepat di selatan San Diego, California, kata kantor jaksa agung Negara Bagian Baja California, Meksiko, dalam sebuah pernyataan.

Saat ditanya pada konferensi pers tentang kasus terbaru pembunuhan jurnalis, Presiden Lopez Obrador menjanjikan penyelidikan penuh.

"Apa yang terjadi sangat disesalkan," kata Lopez Obrador.

Dia menambahkan bahwa penyelidik masih harus menentukan tujuan si pelaku pembunuhan dan mengevaluasi kemungkinan kaitan kasus pembunuhan itu dengan perselisihan perburuhan yang melibatkan Maldonado.

Maldonado muncul pada konferensi pers pagi Lopez Obrador pada 2019 untuk memohon bantuan karena dia takut nyawanya terancam.

Seorang narasumber yang mengetahui kasus tersebut mengatakan bahwa Maldonado telah terdaftar dalam program perlindungan negara bagi jurnalis, termasuk penyediaan pengawasan polisi terhadap rumahnya.
 
Maldonado merupakan jurnalis kedua yang terbunuh di daerah yang sama dalam sepekan. Peristiwa  itu menyoroti status Meksiko sebagai salah satu negara yang paling mematikan bagi jurnalis di luar zona perang.

Dari 2000 hingga 2021, kelompok pembela hak asasi manusia bernama Article 19 telah mencatat 145 pembunuhan jurnalis di Meksiko, dengan tujuh orang jurnalis dibunuh pada 2021.

Pembunuhan Maldonado terjadi kurang dari seminggu setelah para pejabat melaporkan bahwa jurnalis foto Meksiko Margarito Martinez (49 tahun) meninggal setelah kepalanya ditembak di luar rumahnya di Tijuana.

Maldonado adalah jurnalis ketiga yang terbunuh tahun ini di Meksiko. (An/Antara)