Alasan 'Tak Masuk Akal' Israel Bombardir Rafah dan Bunuh Hampir 100 Orang dalam Sehari

VIVA Militer: Penduduk Gaza, Palestina, korban serangan militer Israel
Sumber :
  • wsj.com

Rafah – Israel telah membunuh lebih dari 100 orang setiap harinya dalam serangan udara di Rafah. 

PM Israel Benjamin Netanyahu mengatakan bahwa pihaknya menyerang area Rafah untuk membebaskan dua warga Israel yang ditawan oleh Hamas dan berkata bahwa pasukan Hamas juga kini tengah berada di Rafah, melansir Al Jazeera, Selasa, 13 Februari 2024.

Tel Aviv juga mengklaim bahwa empat brigade Hamas berada di Rafah, menggunakan alasan untuk membenarkan serangan yang sedang berlangsung melalui udara serta rencana serangan darat. 

Rafah, Gaza

Photo :
  • Al Jazeera

Alasan tersebut dianggap 'tak masuk akal' oleh para pakar Hak Asasi Manusia (HAM) di dunia, berkata bahwa membunuh ratusan warga sipil hanya untuk melenyapkan Hamas dan membebaskan dua sandera bukanlah tindakan yang tepat. 

Rafah melintasi perbatasan antara Jalur Gaza dan Mesir.

Di sisi Palestina, Rafah adalah kota paling selatan di Gaza dan ibu kotanya, serta nama penyeberangan ke Sinai di Mesir. Di sisi Mesir, Rafah adalah sebuah kota di provinsi Sinai Utara. 

Rafah Palestina memiliki luas 64 km persegi dan, ketika Israel menyerang Gaza selama empat bulan terakhir, semakin banyak orang yang digiring ke sana oleh pasukan Israel yang terus menjanjikan bahwa Rafah adalah tempat "aman".  

Sekitar 1,4 juta warga Palestina kini telah terdesak ke Rafah akibat pemboman Israel yang tiada henti yang telah menewaskan hampir 30.000 warga Palestina.

Israel juga mengklaim rencana untuk mengevakuasi kota tersebut, ke tempat yang tidak jelas, dan sedang dipersiapkan, sehingga membuat mereka yang berlindung di Rafah tidak bisa kemana-mana.

Warga Palestina mengungsi di Rafah akibat pemboman Israel di Jalur Gaza

Photo :
  • AP Photo/Hatem Ali

Rafah telah mengalami serangan udara dari pasukan Israel selama berbulan-bulan, namun pemboman pada hari Senin lalu telah meningkatkan kekhawatiran bahwa serangan darat Israel akan mengakibatkan pertumpahan darah lebih besar, dan mereka yang terjebak di kota yang padat penduduk tersebut tidak memiliki jalan keluar lagi.