Telepon Disadap AS, Presiden Brasil Murka

Presiden Brasil Dilma Rousseff dan Presiden AS Barack Obama
Sumber :
  • REUTERS/Kevin Lamarque
VIVAnews - Usai mendengar kabar yang menyebut komunikasinya disadap oleh Badan Keamanan Nasional Amerika Serikat (NSA), Presiden Brasil, Dilma Rousseff murka. Dia mengancam akan membatalkan kunjungan kenegaraan ke Gedung Putih pada bulan Oktober mendatang, kecuali dia memperoleh permintaan maaf terbuka.

Informasi itu disampaikan pejabat senior Brasil, kepada kantor berita Reuters , Rabu 4 September 2013. Dalam kunjungannya itu, Rousseff dijadwalkan bertemu dengan Presiden Barack Obama dan berdiskusi soal kemungkinan penjualan 36 pesawat jet tempur F-18 senilai US$4 miliar atau Rp43 triliun ke Brazil.


Selain itu keduanya juga direncanakan melakukan kerja sama di bidang minyak dan teknologi bahan bakar terbarukan. Namun melihat respon yang diberikan AS hingga saat ini, membuat  Rousseff bersiap membatalkan semua rencana itu.


Padahal pada hari Senin kemarin, Menteri Luar Negeri, Luiz Alberto Figueiredo, telah menuntut adanya penjelasan tertulis soal laporan sadapan tersebut kepada Pemerintah AS. Namun hingga hari Rabu siang kemarin, pejabat dari Kementerian Luar Negeri Brasil menyatakan belum ada respon apa pun.


"Dia benar-benar geram mendengar berita itu. Ini merupakan krisis besar dan perlu adanya permintaan maaf yang dilakukan di depan muka publik. Tanpa itu, maka tidak mungkin bagi dia pergi ke Washington bulan Oktober mendatang," kata pejabat yang tidak ingin diketahui identitasnya itu.


Hal itu diperkuat dengan pernyataan Menteri Komunikasi, Paulo Bernardo. Menurut Bernardo, aksi spionase yang dilakukan AS lebih serius dari dugaan sebelumnya.


Sementara Presiden Barack Obama yang berbicara di Swedia mengatakan badan intelijen AS tidak mengintip isi surat elektronik atau mendengarkan isi pembicaraan telepon seseorang. "Apa yang kami lakukan untuk membidik secara khusus, area tertentu yang menjadi perhatian kami," ujarnya dalam perjalanan menuju KTT G20 di St. Petersburg, Rusia.


Menurut Obama, area yang menjadi perhatiannya terkait aksi penanggulangan terorisme, keamanan dunia siber dan senjata pemusnah massal. Namun pernyataan Obama itu ditolak mentah-mentah oleh pejabat tinggi Brazil.


Menurut mereka, tidak ada satu pun isi komunikasi yang dilakukan Rousseff terkait dengan ketiga isu tersebut. Brazil diketahui bukan sarang kelompok teroris, bukan pula salah satu negara yang memproduksi senjata nuklir.


Negeri Samba sudah lama dikenal sebagai negara demokrasi dan sekutu terdekat AS di kawasan Amerika Latin selama tiga dekade.  "Semua penjelasan yang mereka berikan sejak awal kepada kami sudah jelas terbukti keliru. Saya kira alasan mereka menyadap bukan untuk keamanan nasional AS, tapi lebih kepada kepentingan komersil dan tujuan industri," kata Menteri Komunikasi, Paulo Bernardo. 


Isu penyadapan ini bermula dari laporan wartawan harian
the Guardian
, Glen Greenwald, di sebuah tayangan program di stasiun televisi
Globo
. Saat itu dia memaparkan dokumen yang bersumber dari Edward J. Snowden, berisi pola komunikasi antara Rousseff dengan dua penasihat utamanya. (eh)