Kosmonot Bukan Pekerjaan Idaman Lagi di Rusia

pesawat soyuz sukses merapat di stasiun antariksa
Sumber :
  • REUTERS/Kirill Kudryavtsev
VIVAnews - Menjadi penjelajah di luar angkasa sepertinya mulai kehilangan pamor dan sihirnya di Rusia lantaran salah satu kosmonot mereka, tiba-tiba memutuskan keluar dari pekerjaan tersebut. Pria bernama Yury Lonchakov memilih pensiun dini dan bekerja di sebuah perusahaan gas Rusia, Gasprom.

Berita yang kemudian dilansir laman Russian Today, Sabtu 7 September 2013, melansir itu sontak membuat rekan-rekan kerjanya terkejut. Pasalnya Lonchakov dijadwalkan akan berangkat kembali ke luar angkasa dalam misi Stasiun Luar Angkasa Internasional (ISS) bersama tiga astronot lainnya.

Dua di antara astronot tersebut berasal dari Jepang (JAXA) dan Amerika Serikat (NASA). Sementara satu astronot lainnya merupakan rekan satu negara Lonchakov.

Informasi ini diperoleh dari Kepala Pusat Pelatihan Kosmonot, Sergey Krikalev. "Dia datang kepada saya dan mengatakan bahwa dia telah menemukan pekerjaan lain yang lebih menarik dibandingkan bekerja di luar angkasa," ungkap Krikalev kepada Kantor Berita Interfax, yang menyebut isi surat pengunduran diri Lonchakov.


Krikalev mengaku tidak habis pikir dengan keputusan Lonchakov, karena dia merupakan kru pilihan. "Sejujurnya, kami berharap banyak dia dapat ikut, karena dia tidak hanya tergabung di dalam unit, tetapi juga ditugaskan bertanggung jawab terhadap kru," kata Krikalev.


Pekerjaan Tak Menarik?


Pengunduran diri Lonchakov, kemudian membuat tanda tanya di benak publik Rusia, apalagi pekerjaan yang jauh lebih menarik ketimbang jadi astronot. Namun berhembus kencang rumor yang menyebut alasan Lonchakov memilih mundur, karena dia sedang berutang kepada bank dalam jumlah besar.


Selain itu pekerjaannya di Gazprom menawarkan dia gaji dua kali lipat dibanding sebagai kosmonot. Menurut data dari Russian Today, di tahun 2010, seorang kosmonot Rusia saat berada di ISS, per enam bulan dapat menerima gaji antara US$130 ribu (Rp1,4 miliar) hingga US$150 ribu (Rp1,6 miliar).


Sementara, saat sedang bertugas di bumi, mereka hanya menerima gaji US$2100 (Rp23,4 juta) per bulannya. Rumor itu dibenarkan oleh salah satu teman Lonchakov.


Menurut sang teman, istri Lonchakov, Tatiana, kurang bahagia dengan gaji suaminya saat masih bekerja di Badan Antariksa Rusia.


"Berhenti dari industri antariksa murni merupakan keputusan pribadinya. Dia mengira, pengabdiannya di dunia antariksa sudah cukup. Sementara dia mendapat tawaran yang sulit ditolak," kata temannya itu.


Di lain pihak, Juru Bicara Pusat Pelatihan Kosmonot, Irina Rogova mencap Lonchakov sebagai seorang pengkhianat negara. "Dia terdaftar sebagai salah satu anggota kru penerbangan di tahun 2015 dan telah menyelesaikan pelatihannya. Itu semua butuh waktu dua atau tiga tahun sebelum berangkat. Lagipula yang kami bicarakan adalah ISS, artinya kami bekerja dengan mitra dari negara lain," kata Rogova ketus.


Kini, Rogova mengaku kelimpungan untuk mencari pengganti Lonchakov secepatnya. Dia juga mengatakan motivasi seseorang untuk jadi kosmonot, tidak semata-mata hanya mencari uang. "Mereka adalah orang-orang terpilih. Itu merupakan pekerjaan yang romantis, impian dan tujuan semua orang," kata Rogova.


Lonchakov kali pertama mengudara di tahun 2001, sebagai bagian dari kru kapal luar angkasa STS-100 dalam program ISS. Di tahun 2008, dia menjadi kapten kapal Soyuz TMA-13 dan bertindak sebagai mekanik penerbangan ekspedisi ke-18 ISS.


Profesi kosmonot di mata Krikalev, tidak lagi menjadi pilihan banyak warga Rusia. Menurut hasil survei yang baru-baru ini diadakan, generasi modern Rusia lebih memilih untuk bekerja menjadi dokter, guru dan pengemudi truk ketimbang kosmonot.


"Luar angkasa di negara kami kini sama seperti bidang pekerjaan lainnya," kata Krikalev.


Pernyataan itu terbukti saat diadakan pembukaan perekrutan kosmonot tahun lalu. Saat itu aplikasi yang diterima hanya berjumlah 300 buah. Hal itu berbanding jauh dengan pembukaan lowongan di NASA tahun 2011 lalu, total pendaftar mencapai 6.000 orang.