Kelompok Teroris Islamic State Bidik Filipina Selatan

Ketua MILF, Murad Ibrahim (kiri) dan Presiden Filipina, Benigno Aquino III
Sumber :
  • www.opapp.gov.ph

VIVA.co.id - Front Pembebasan Islam Moro (Moro Islamic Liberation Front/MILF) mengingatkan bahwa kelompok teroris Negara Islam (Islamic State/IS) sedang mencoba membangun basis pertahanan di Filipina Selatan.

Hal itu mencuat karena mereka tidak mau dijadikan 'kambing hitam' atas serangan bersenjata terhadap militer Filipina. Apalagi, saat ini proses perdamaian MILF dan Pemerintah Filipina mengalami deadlock.

Mengutip situs Channel News Asia, Senin, 7 Maret 2016, Ketua MILF, Murad Ebrahim, mengatakan, ekstrimis IS berusaha untuk memanfaatkan situasi yang tidak kondusif di Filipina Selatan lantaran proses perdamaian antara pemberontakan MILF dan pemerintah Filipina selama puluhan tahun di wilayah Mindanao Selatan pada bulan lalu, mangkrak.

"Mereka (IS) melihat ada celah besar (loophole) di sini. Belum tercapainya perdamaian. Sekarang, kami sangat khawatir bahwa mereka (IS) sudah masuk ke lingkungan kami, karena sentimen dari orang-orang di wilayah itu (Moro) terhadap pemerintah sangat kuat," kata Murad.

Menurutnya, sejumlah pria bersenjata berjanji setia kepada para jihadis yang mengendalikan petak-petak Irak dan Suriah itu, telah menghasut serangkaian pertempuran mematikan dengan tentara di Filipina Selatan yang mudah menguap akibat Parlemen Filipina memblokir perdamaian.

Murad juga mengatakan, pihaknya sedang mencari dialog dengan sekutu dari militan IS di Filipina Selatan untuk mencegah mereka melakukan tindakan brutal lebih lanjut.

Sebenarnya, pada 2014, MILF menandatangani perjanjian perdamaian dengan Filipina di bawah Presiden Benigno Aquino III untuk mengakhiri perjuangan untuk kemerdekaan Filipina Selatan, yang dimulai sejak 1970 silam.

Melalui perjanjian itu, MILF berjanji untuk menghormati gencatan senjata, sembari menunggu pemilu Presiden Filipina yang dilaksanakan pada pertengahan tahun ini.

"Kita tidak meninggalkan perjuangan bersenjata. Tapi kami selalu percaya bahwa kami harus memberikan supremasi dan keutamaan proses perdamaian karena kami percaya solusi untuk masalah ini ada di political will kedua belah pihak," jelas Murad.

Kekerasan telah melanda Filipina Selatan selama beberapa dekade yang merenggut nyawa pemberontakan Muslim Moro sebanyak 120 ribu jiwa.