Malaysia Gagalkan Penculikan PM Najib oleh Teroris IS

Malaysia Gelar Doa Bersama Untuk Korban Malaysia Airlines MH370
Sumber :
  • REUTERS / Olivia Harris

VIVA.co.id - Wakil Perdana Menteri Malaysia, Ahmad Zahid Hamidi, mengatakan, Kepolisian Malaysia berhasil menggagalkan rencana penculikan terhadap Perdana Menteri Najib Tun Razak beserta menteri senior lainnya oleh kelompok militan Daulah Islamiyah (Islamic State/IS) tahun lalu.

Zahid Hamidi, seperti dikutip dari situs Channel News Asia, Selasa, 8 Maret 2016, mengungkapkan, militan ini juga berencana untuk melakukan serangan bom bunuh diri di ibukota administratif, Putrajaya.

"Tanggal 30 Januari 2015, kami mendapat informasi bahwa ada rencana penculikan terhadap perdana menteri, menteri dalam negeri, dan menteri pertahanan oleh 13 jihadis yang terkoneksi dengan Daesh (Negara Islam/IS)," kata dia, menanggapi upaya Pemerintah Malaysia mengatasi ancaman IS.

Pria yang juga menjabat sebagai menteri dalam negeri itu, menambahkan, antara September 2014 dan Mei 2015, anggota IS pernah merencanakan melakukan tiga serangan bom bunuh diri sekaligus yakni ibukota Kuala Lumpur, Putrajaya, dan Negara Bagian Kedah.

"Sasaran serangan ke pusat hiburan dan bangunan keagamaan, termasuk sebuah masjid Syiah, Wihara, dan kuil Freemason," paparnya.

Aksi ini, lanjut Zahid Hamidi, sudah direncanakan dengan matang. Termasuk mencuri senjata dari barak militer, pembuatan bom berdaya ledak tinggi, mencuri uang tunai untuk mendanai serangan.

"Tujuan dari ini semua menculik pemimpin negara dan meminta tebusan," tutur dia.

Namun, mayoritas Muslim Malaysia tidak mengalami serangan yang signifikan. Meski begitu, pihak keamanan Malaysia telah menangkap sedikitnya 160 jihadis, sejak Januari 2015, lantaran diduga terlibat aksi militan, termasuk tujuh orang yang diyakini menjadi bagian dari jaringan IS.

Kendati demikian, Zahid Hamidi, memastikan bahwa meskipun di Malaysia tidak ditemukan keberadaan Daesh, namun telah terjadi 'cuci otak' yang dilakukan jaringan IS di Suriah kepada masyarakat Malaysia.

"Perintah itu (cuci otak) datang langsung dari pemimpin IS di Suriah. Mereka berusaha mempengaruhi rakyat agar tunduk sama perintah untuk melakukan aksi brutal di sini," kata Zahid Hamidi.

Malaysia menerapkan siaga I pascaserangan bom dan bersenjata di kawasan bisnis Thamrin, Jakarta, pada 14 Januari 2016. (ren)