Jelang Pilpres, AS di Bawah Bayang-bayang Teroris Domestik

Capres AS, Donald Trump dan Hillary Clinton.
Sumber :
  • reuters.com

VIVA.co.id – Amerika Serikat seakan tak pernah lepas dari ancaman. Belakangan, ancaman teror datang justru dari dalam negeri. Hingga tengah tahun ini, praktis sudah 10 kasus penembakan terjadi di Negeri Paman Sam.

Parahnya, penembakan dilakukan oleh warga sipil. Tiga kasus terakhir yaitu penembakan di klub malam di Orlando, Dallas, dan Louisiana.

Presiden Barack Obama dihadapkan pada kasus “teroris domestik” yang dilakukan warganya sendiri. Ia seperti dibuat mati kutu, namun mengaku sudah benar-benar muak dengan terus terjadinya aksi penembakan massal.

Terlebih, kasus ini menjelang akhir masa jabatannya dan Konvensi Nasional Partai Republik dan Demokrat. Insiden ini pun bagai "duri dalam daging" dalam pemerintahan Obama.

Tak pelak, gelombang kekerasan ini telah membuat pengamanan di seluruh negeri diperketat, terutama di Cleveland dan Philadelphia.

Pasalnya, di kedua negara bagian tersebut akan menjadi tempat penyelenggaraan Konvensi Nasional Partai Republik, yang digelar pada 18-21 Juli, serta Konvensi Nasional Partai Demokrat, pada 25-28 Juli.

'Wild Wild West

Melansir situs Aljazeera, Senin, 18 Juli 2016, pihak keamanan kota Cleveland telah mencoba membatasi warga dan waktu demonstrasi.

Namun, akhirnya membebaskan rencana pengunjuk rasa dan boleh mendekati gedung pertemuan tempat berlangsungnya konvensi di Quicken Loans Arena. Hanya saja memberi jangka waktu yang lebih ketat.

Pakar Hubungan Internasional Universitas Padjadjaran, Bandung, Arry Bainus mengatakan, maraknya kasus penembakan di AS disebabkan bolehnya warga di sejumlah negara bagian memiliki senjata dengan bebas.

Hal ini juga tidak bisa lepas dari faktor sejarah negeri itu.

"Kepemilikan senjata di Amerika tak lepas dari 'Wild Wild West'. Saat itu warga sangat bebas punya senjata, dan bahkan cenderung liar dalam menggunakannya. Saat ini pun masih berlaku di beberapa negara bagian seperti California dan Florida," kata Arry.

Wakil Rektor Unpad ini juga menuturkan, pertahanan diri (self-defense) menjadi alasan mengapa bebasnya warga sipil memiliki senjata.

Menurutnya, pemerintahan Obama pernah ingin memperketat kepemilikan senjata oleh sipil pada 2012. Namun, usulan itu ditolak mentah-mentah.

"Yang menolak negara bagian besar seperti California, Florida dan Oregon. Selain itu, Kongres juga menyuarakan hal yang sama. Sungguh ironis bagi Obama," ungkapnya. (ase)