Lulusan SMP, Remaja India Ini Tembus Kampus Bergengsi Dunia

Malvika Raj Joshi, remaja India yang berhasil menembus MIT.
Sumber :
  • Hindustan Times.

VIVA.co.id – Remaja perempuan asal Mumbai, India, tak meneruskan sekolahnya hingga SMU. Namun ia berhasil diterima di kampus teknologi bergengsi di dunia, Massachussetts Institute of Technology (MIT).

Malvika Raj Joshi berhasil mendapatkan beasiswa dari MIT dan berpotensi mendapatkan gelar "Bachelor of Science," setelah selama tiga kali berturut-turut memenang medali (dua perak dan satu perunggu) dalam Olimpiade Internasional Informatika, yang biasa dikenal dengan nama Olimpiade Programmer.

MIT biasa menerima siswa peraih medali dalam berbagai olimpiade (matematika, fisika, atau komputer). Dan Malika berhasil meraih medali setelah mampu menyampaikan presentasinya dari hasil penelitian mengenai Ilmu Komputer, subjek yang menjadi favoritnya.

"Setelah saya memutuskan berhenti sekolah empat tahun yang lalu, saya mengeksplorasi banyak subjek yang berbeda. Programming adalah salah satunya. Saya merasa programming adalah hal yang sangat menarik, dan saya meluangkan waktu lebih banyak dibanding subjek yang lain. Jadi semakin hari saya semakin menyukai hal tersebut," ujarnya, seperti diberitakan oleh Hindustantimes, Rabu, 31 Agustus 2016.

Malvika mendapatkan dukungan penuh dari Chennai Mathematical Institute (CMI). "Sama sekali tak ada yang meragukan kemampuan superlative Malvika pada IOI. MIT adalah kampus yang sangat fleksibel yang memungkinkan pelajar yang memiliki potensi yang sangat baik menjadi mahasiswa mereka, meski tak memiliki ijazah SMU formal," ujar Madhavan Mukund, perwakilan CMI yang selalu mendampingi remaja berusia 17 tahun tersebut.

Kesuksesan Malvika justru dimulai setelah dia keluar dari sekolah formal, empat tahun yang lalu. Saat itu Supriya, ibu Malvika memutuskan mengeluarkan Malvika dan Radha, adiknya, dari sekolah mereka di Dadar Parsee Youth Assembly School, di Mumbai. Padahal kedua anak tersebut memiliki prestasi akademik yang bagus.

"Kami dari keluarga menengah. Malvika sangat bagus di sekolah, namun kadang-kadang saya mereka anak-anak saya membutuhkan kebahagiaan. Menurut saya, kebahagiaan jauh lebih penting dari ilmu pengetahuan konvensional," ujar Supriya.

"Saya bekerja di sebuah LSM yang menangani pasien kanker. Saya sering melihat anak-anak dari kelas 8 dan 9 yang terkena kanker. Itu sangat menyentuh saya, dan saya memutuskan untuk membuat anak-anak saya bahagia," ujarnya. Meski awalnya tak mendukung, namun akhirnya ayah Malvika memberikan restunya.

Dan pilihan Supriya tepat. Setelah berhenti sekolah, hasrat belajar Malvika justru meningkat tajam. "Tiba-tiba ia terlihat begitu bahagia. Dia banyak belajar, jauh lebih banyak sejak ia bangun tidur hingga menjelang tidur. Ilmu pengetahuan berubah menjadi rasa ketertarikan," cerita Supriya.

Dan kini Supriya memperoleh hasil. Gadis remajanya berhasil memasuki kampus teknologi bergengsi meski tak punya ijazah resmi.