Culik WNI dan Malaysia, Abu Sayyaf Raup Rp95 Miliar

Kelompok bersenjata Abu Sayyaf, kerap melakukan penculikan dan perampokan di Filipina Selatan.
Sumber :
  • www.worldbulletin.net

VIVA.co.id – Sebuah laporan rahasia milik pemerintah Filipina menyebut kelompok militan Abu Sayyaf meraup sedikitnya 353 juta peso (US$7,3 juta/Rp95 miliar) dari hasil uang tebusan penculikan dalam enam bulan pertama tahun ini.

Mereka 'langganan' menculik awak-awak kapal tongkang di tengah serangan militer yang membatasi mobilitas kelompok bandit itu.

Mengutip situs Voa, Jumat, 28 Oktober 2016, serangan Abu Sayyaf terhadap kapal-kapal tongkang serta menculik para awak Malaysia dan Indonesia telah meningkatkan kewaspadaan keamanan dua negara tersebut.

"Pembayaran (tebusan) besar dari hasil menculik memungkinkan mereka (Abu Sayyaf) membeli senjata api dan amunisi," demikian keterangan resmi laporan.

Dari estimasi Rp9,5 miliar uang tebusan yang diterima Abu Sayyaf sejak dari Januari-Juni, mayoritas berasal dari pembebasan 14 awak Indonesia dan empat Malaysia, yang disandera di basis Abu Sayyaf di hutan provinsi Sulu, Basilan, Filipina Selatan.

"Di luar itu semua. Mereka juga mendapatkan tambahan uang tebusan sebesar 20 juta peso (US$413 ribu/Rp5,37 miliar) dari pembebasan Marites Flor, perempuan Filipina yang diculik bersama dua warga Kanada dan seorang warga Norwegia tahun lalu," bunyi laporan itu.

Klaim tanpa tebusan

Naas. Abu Sayyaf akhirnya memenggal kepala dua warga Kanada setelah tenggat waktu tebusan habis. Sementara, sandera Norwegia, Kjartan Sekkingstad, dibebaskan pada September lalu setelah disandera selama satu tahun dan terus diancam akan dipenggal kepalanya.

Sebelum pembebasan Sekkingstad, Presiden Filipina Rodrigo Roa Duterte mengindikasikan Norwegia telah menebus Sekkingstad sebesar 50 juta peso (US$1 juta/Rp13 miliar) kepada Abu Sayyaf.

Namun, Angkatan Bersenjata Filipina mengungkapkan bahwa serangan militer yang konstan telah memaksa para militan untuk membebaskan para sandera mereka.

Sementara, para pejabat Filipina mengaku tidak tahu-menahu mengenai tebusan para sandera tersebut, dan tetap mengklaim mengadopsi kebijakan tanpa uang tebusan.

"Saat ini Abu Sayyaf mulai bergeser dan menyasar kapal-kapal tongkang berbendera asing akibat operasi militer yang terus-menerus dilakukan,” ungkap laporan tersebut.

Diperkirakan, mereka akan mengintensifkan serangan penculikan untuk mendapatkan tebusan di perairan yang sibuk sekitar Filipina bagian selatan yang berbatasan dengan Malaysia dan Indonesia.