Tokoh Muslim AS Desak Trump Revisi Calon Menterinya

Donald Trump, Presiden terpilih Amerika Serikat.
Sumber :
  • REUTERS/Mike Segar

VIVA.co.id – Ratusan tokoh Muslim di Amerika Serikat, mendesak Presiden terpilih, Donald Trump merevisi keputusannya menunjuk calon menteri yang memiliki pandangan negatif terhadap Islam.

Para pemimpin yang berjumlah 300 orang ini mengingatkan Presiden AS ke-45 itu, agar mempertimbangkan kembali para calon pembantunya itu yang menolak keberadaan umat Muslim, serta menyebarkan Islamophobia.

"Hal ini sangat memprihatinkan bahwa Anda (Trump) telah mengumumkan penunjukkan individu, untuk kabinet pemerintah mendatang dengan sejarah yang terdokumentasi dari kefanatikan yang diarahkan ke Muslim," bunyi surat keterangan resmi itu, seperti dikutip situs Sputniknews, Selasa 6 Desember 2016.

Selama kampanye presiden, Trump menyebut ekstremisme Islam, merupakan ancaman besar bagi keamanan AS, dan menyerukan larangan imigran Muslim sampai identitas dan niat mereka ‘diputuskan’ positif.

Selain itu, Trump juga mengatakan, kalau dirinya terbuka untuk gagasan yang membutuhkan Muslim di Amerika Serikat, dengan mendaftarkan diri ke dalam database sebagai tindakan pencegahan untuk mengurangi ancaman terorisme.

Pada 2015, Biro Investigasi Federal (FBI) mencatat kenaikan 67 persen dalam kejahatan kebencian terhadap kaum Muslim di negeri Paman Sam.

Pascaterpilihnya Trump, organisasi Muslim di Amerika Serikat, justru semakin banyak menerima laporan lebih banyak soal kejahatan komunal.

Jumlah laporan kejahatan ini terbesar, setelah tragedi 11 September 2001, serangan teroris di Menara Kembar WTC, New York, AS. Salah satu tokoh AS anti-Islam dan calon kuat kabinet Trump adalah Michael Flynn.

Ia didapuk sebagai Kepala Penasihat Keamanan Nasional Amerika Serikat. Dalam pernyataannya, Flynn menegaskan bahwa Islam bukanlah agama.

"Saya tidak melihat Islam itu sebagai agama. Ini seperti kanker," kata pensiunan jenderal bintang tiga itu, pertengahan November lalu.

Flynn melanjutkan, dia telah melalui 'kanker' selama hidupnya. "Jadi, sekali lagi, itu (Islam) seperti kanker ganas kalau dikaitkan dalam kasus ini (terorisme)," ungkapnya. (asp)