Trump: Rusia Jadi Ancaman Utama Kepentingan AS

Donald Trump saat menyampaikan pidato kemenangannya sebagai Presiden ke 45 Amerika.
Sumber :
  • REUTERS/Mike Segar

VIVA.co.id – Presiden terpilih AS, Donald Trump, meminta Departemen Pertahanan alias Pentagon menempatkan Rusia di urutan teratas dalam daftar negara-negara yang dianggap menjadi "pengancam" kepentingan Amerika Serikat.

Dilaporkan oleh Reuters, Kamis 12 Januari 2017 waktu setempat, AS menegaskan kepada Kongres bahwa Amerika harus siap menghadapi Moskow, bahkan saat Rusia mundur dari tawaran Trump untuk menjalin hubungan yang lebih baik.

Keputusan Trump ini sejalan dengan pensiunan marinir Jenderal James Mattis, yang ditunjuk sebagai calon Menteri Pertahanan. Namun sikap ini menyimpang jauh dari retorika kampanye Trump. Dia saat itu memuji Presiden Rusia, Vladimir Putin. Bahkan Trump sempat berjanji untuk membangun kerja sama yang baik dengan Putin.

Mattis mengatakan Rusia, Cina dan militan Islam menyajikan tantangan terbesar bagi tatanan dunia yang dipimpin AS sejak Perang Dunia II. "Kita  harus mengakui kenyataan tentang apa yang telah diserahkan Rusia," kata Mattis."Ada penurunan di sejumlah daerah yang memungkinkan Amerika Serikat menjalin kerja sama dengan Moskow," imbuhnya.

"Saya akan mempertimbangkan ancaman dasar ini saat memulai (kerja sama) dengan Rusia," ujar Mattis saat ditanya tentang ancaman utama kepentingan AS.

Di samping itu, ketika ditanya soal sanksi baru AS atas Rusia, Mattis ingin bertemu terlebih dahulu dengan tim keamanan nasional yang baru. Ia ingin menyusun strategi dalam menghadapi Rusia dan untuk apa strategi itu dilakukan.

Dalam delapan hari hitungan mundur pelantikannya, Trump akhirnya mengaku Rusia telah meretas Komite Nasional Demokrat dan email petinggi-petinggi Partai Demokrat selama kampanye pemilihan presiden 2016. Kesimpulan ini juga datang dari agen mata-mata AS.

Mattis menyebut keterlibatan Rusia dalam melakukan peretasan dan perang informasi sebagai tantangan yang ditimbulkan oleh Moskow. Hal lain dari peretasan itu yaitu pelanggaran perjanjian, kegiatan destabilisasi di luar negeri dan pesan peringatan dari Moskow mengenai penggunaan senjata nuklir.

(ren)