Mengenal Sosok Penasihat Keamanan AS yang Baru

Letnan Jenderal Herbert Raymond McMaster.
Sumber :
  • REUTERS/Kevin Lamarque

VIVA.co.id – Letnan Jenderal Herbert Raymond McMaster (54 tahun) resmi menjabat sebagai Penasihat Keamanan Nasional Amerika Serikat. Beberapa kalangan menyebut penunjukan McMaster oleh Presiden Donald John Trump dinilai tepat, karena pengalaman militernya.

Senator John McCain pun memujinya. Tokoh Perang Vietnam yang kini menjabat Ketua Komite Angkatan Bersenjata ini memuji Trump karena mengangkat McMaster sebagai pilihan yang “luar biasa”.

"Saya memberikan nilai plus untuk Presiden Trump atas keputusan ini," kata anggota Partai Republik itu, seperti dikutip situs Reuters, Selasa, 21 Februari 2017.

Sementara itu, mantan Duta Besar AS untuk Rusia, Michael McFaul, memuji McMaster sebagai sosok hebat dan tidak takut untuk membantah perintah atasan. "Saya pikir dia dipilih memang untuk tugas yang tepat. Salah satu pemimpin tempur terbaik dan pengatur strategi besar," kata McFaul, yang juga anggota Partai Demokrat ini.

McMaster yang sengaja terbang ke Washington dari Florida bersama Trump dengan menggunakan Air Force One, akan tetap bertugas di Angkatan Darat sebagai perwira aktif. McMaster adalah lulusan West Point dikenal sebagai ‘HR’.

Ia bergelar PhD dari University of North Carolina dengan keahilan sejarah AS. McMaster juga terdaftar sebagai satu dari 100 orang paling berpengaruh versi Majalah Time pada 2014, sebagian karena berani berbicara dan melawan atasan.

McMaster mulai terkenal dalam Perang Teluk Pertama, dan dianugerahi Silver Star  setelah memimpin unit kecil dari Resimen 2 Kavaleri Lapis Baja untuk menghancurkan kekuatan Pasukan Pengawal Irak pada 1991 di sebuah tempat bernama 73 Easting, sebutan untuk koordinat peta.

McMaster (kiri) bersama Donald Trump dan Keith Kellogg.

Keberaniannya melawan atasan terungkap dalam sebuah wawancara 14 Juli 2014, dengan Columbus Ledger-Enquirer di Columbus, Georgia, Fort Benning. Kala itu, McMaster, yang menjabat sebagai Komandan Pangkalan Fort Benning, menyebut beberapa pihak memiliki kesalahpahaman tentang Angkatan Darat.

"Beberapa orang berpikir, hai, Anda berada di militer dan semuanya super-hirarkis. Anda berada di lingkungan yang antikritik dan menolak penilaian secara faktual. Itu salah. Saya melihat justru sebaliknya. Para pimpinan melihat saya telah bekerja dengan benar. Mereka ingin penilaian yang jujur tetapi mereka juga ingin dikritik dan diberi masukan," kata McMaster.

Pernah ditangkap, tapi lolos

Ia juga bercerita pernah ditangkap saat bertugas di Irak. McMaster menjadi Komandan Resimen 3 Kavaleri Lapis Baja pada musim semi 2005. Saat sedang operasi ia ditangkap dan ditahan di wilayah Tal Afar, perbatasan Irak-Suriah.

Tal Afar dikenal sebagai “markas” ekstremis Sunni, karena berada di titik persimpangan antara Suriah dan Irak. Lokasi ini pernah dikuasai pimpinan al-Qaeda, Abu Musab al-Zarqawi, sebelum ia tewas dibunuh dan berubah menjadi kelompok ISIS.

Meski ditahan, McMaster bisa lolos dari maut lantaran dilatih mempelajari budaya Irak. Ia pun mengenal perbedaan antara Sunni, Syiah dan Turkomen. Ia menjalankan strategi dengan melancarkan taktik pendekatan budaya.

Benar saja, taktik McMaster ini berhasil, yang kemudian mengubah seluruh strategi perang AS dari sebelumnya membunuh dan menangkap, sejak invasi pada Maret 2003 silam.

Meski sukses dan membantu pasukan AS dan Irak memukul mundur musuh, hal itu tidak membuat petinggi militer bangga dengan McMaster. Karena doyan membantah, maka pangkat McMaster sempat tertahan dua kali, yakni 2006 dan 2007, dari kolonel menjadi brigadir jenderal.

Namun, nasibnya beruntung ketika David Petraus menjadi Kepala Staf Angkatan Bersenjata AS. Ia pun mendapat promosi bintang satu. (one)