Penerjemah Jepang Kesulitan dengan Bahasa Trump

Presiden AS Donald John Trump.
Sumber :
  • REUTERS/David Becker/Files

VIVA.co.id – Sudah resmi dilantik dan menjadi Presiden AS, tapi Donald Trump masih menjadi pembicaraan hangat masyarakat dunia. Tak hanya kebijakannya yang menuai berbagai kontroversi, gaya bicaranya pun mengundang perhatian.

Baru-baru ini seorang penerjemah asal Jepang mengaku kesulitan menafsirkan gaya bicara Trump yang unik, bahkan menganggapnya sebagai sebuah “mimpi buruk”. Para penerjemah punya istilah unik untuk itu, mereka menjulukinya sebagai 'Trumpese'.

Penerjemah Inggris-Jepang itu harus berjuang mengikuti pidato presiden AS, yang dikatakan sangat kontras dengan gaya presiden pendahulu yakni Barack Obama yang diakui sebagai orator besar.

"Dia jarang berbicara secara logis dan hanya menekankan satu sisi hal seolah-olah kebenaran mutlak. Ada banyak momen ketika saya menduga pernyataannya itu meragukan," kata penerjemah bernama Chikako Tsuruta, seperti dikutip Independent.

"Dia sangat percaya diri. Saya dan penerjemah lainnya sering bercanda dengan teman-teman karena ketika menerjemahkan pembicaraan Trump sebagaimana adanya, kita akan terdengar seperti orang bodoh," ujar dia.

Tsuruta, yang kerap meliput berita Amerika Serikat dan bekerja sebagai penerjemah untuk CNN, ABC dan CBS mengatakan terkadang ada isu penting yang justru membuat bingung para penerjemah. Sebab ada beberapa retorika kontroversial yang harus "dilunakkan" oleh interpreter agar mudah dimengerti.

Hal senada juga diungkapkan seorang pensiunan penerjemah bernama Kumiko Torikai. Menurutnya ketika subjek membuat komentar rasis atau misoginis, maka pekerjaan penerjemah menjadi rumit. Hal itulah yang menjadi alasannya memutuskan untuk meninggalkan profesi tersebut pada tahun 1980-an.

"Sebagai penerjemah, tugas kita adalah menerjemahkan kata-kata dari pembicara persis seperti apa yang mereka katakan. Tidak peduli seberapa keji atau bohongnya apa yang mereka katakan," kata dia.

Menurutnya, tak dibenarkan seorang penerjemah melibatkan emosi atau pendapatnya dalam setiap pekerjaan tersebut. Tidak boleh pula menunjukkan penilaian tentang apa yang benar dan apa yang salah.

"Jika Trump mengeluarkan kata yang tak masuk akal, dan Anda pun tak memahaminya, itu apa adanya. Jika bahasanya kasar, begitu pula Anda harus menerjemahkannya," ujar Torikai. (one)