Pakar: Orang Bogor dan Bekasi Merasa Lebih Jakarta Ketimbang Bandung

Gedung Bertingkat di Jakarta
Sumber :
  • VIVA/M Ali Wafa

VIVA – Pakar Tata Kota, Yayat Supriatna, menyampaikan bahwa saat ini pendekatan administratif selalu menjadi pertimbangan utama dalam pemekaran suatu daerah. Hal ini juga mengemuka saat wacana soal pembentukan Provinsi Bogor Raya atau Jakarta Tenggara dengan mengajak Kota Bekasi bergabung dengan DKI Jakarta.

"Tidak melihat pada pendekan fungsional. Bogor dan Bekasi lebih merasa dekat dengan wilayah Jakarta. Tapi administratif itu menyekat, karena pendekatannya sangat teks book, administratif dan aturan," katanya.

Sementara dalam konteks fungsional, kegiatan ekonomi itu tidak dapat dikendalikan. Yayat memberi contoh, indeks pembangunan Jawa Barat ada hal yang menarik, pertama Bandung, kedua Bekasi, tiga Depok, empat Cimahi dan lima Bogor.

Data menunjukan, tingginya daya beli masyarakat di wilayah Jawa Barat, dipengaruhi karena 20 persen orang Depok dan Bekasi yang bekerja di Jakarta. Orang Bodetabek jelas lebih merasa sebagai orang Jakarta dibanding orang Bandung.

Apapun yang diingin para pemimpin daerah mengenai pemekeran wilayah, jelas harus dilihat esensi utamanya. Apa dampak bagi kesejahteraan masyarakat.

"Masyarakat ingin di gabung atau tidak dia menunggu. Hari ini kesehatan baik atau atau tidak, pelayanan transportasi makin baik atau tidak, atau hal-hal lain. Jadi kalau terjadi perubahan karena mampu secara fiskal, tapi yang ditunggu masyarakat adalah perubahan ini membawa hal yang lebih baik atau tidak," kata Yayat.

Pembaca setia VIVA yang ingin melihat lebih lengkap penjelasan Yayat Supriatna, bisa mengklik tautan berikut atau melihat video di bawah ini.

>