Geliat Produksi Padi dari Perut Jakarta

Sawah di Rorotan, Cilincing, Jakarta Utara.
Sumber :
  • VIVA.co.id/ Willibrodus

VIVA – Produktivitas sawah di Jakarta masih bergeliat. Meskipun, keterbatasan lahan di Ibu Kota membuat produksi padi tidak akan lebih baik dari daerah lumbung pangan lainnya.

Masifnya pembangunan gedung hingga permukiman di Ibu Kota memang telah menggeser lahan pertanian. Kini, lahan pertanian di Jakarta hanya ada di beberapa Kota saja. Sawah-sawah itu masih dimaksimalkan oleh para petani untuk bisa produktif.

Tapi, di tengah penurunan kinerja sektor-sektor usaha lain imbas pandemi COVID-19, pertanian di Jakarta ternyata mampu meningkatkan produksi.

Berdasarkan data BPS DKI Jakarta, produksi padi di Ibu Kota pada 2020 tercatat sebesar 4.543,93 ton gabah kering giling (GKG). Angka itu bertambah 1.184,6 ton GKG atau naik 35,26 persen dibanding 2019 yang sebesar 3.359,31 ton GKG.

Secara spasial, Jakarta Utara merupakan kota dengan total produksi padi tertinggi, yaitu 3.864,7 ton. Setelah itu diikuti oleh Jakarta Barat dengan produksi 511,87 ton dan Jakarta Timur 167,3 ton. 

Untuk Jakarta Pusat dan Jakarta Selatan sendiri diketahui sudah tidak ada lagi tercatat produksi padi.

Data produksi padi di Jakarta

Photo :
  • BPS DKI

Jika dikonversikan menjadi beras, maka produksi padi sepanjang Januari hingga Desember 2020 itu setara dengan 2.664,6 ton beras atau meningkat 35,26 persen dibandingkan periode yang sama tahun 2019 sebesar 1.970 ton.

BPS juga mencatat luas panen padi di Jakarta sepanjang 2020 sebesar 914,51 hektare atau bertambah 291,92 hektare (46,89 persen) dibanding 2019 yang mencapai 622,59 hektare.

"Penambahan luas panen ini terjadi karena curah hujan yang tinggi pada semester II 2019. Sehingga masa panen yang semestinya dapat dilakukan pada subround III tahun 2019 bergeser ke subround I 2020," demikian dikutip dari Berita Resmi Statisik BPS DKI.

Pada tahun 2021, BPS masih belum merilis berapa produksi padi di Jakarta. Namun, BPS DKI sudah menerbitkan potensi produksi pada subround Januari-April 2021 yang diperkirakan sebesar 722,82 ton GKG. Jumlah ini memang lebih rendah dibanding subround yang sama pada 2020 yang mencapai 1.591 ton GKG.

Kepala Dinas Ketahanan Pangan, Kelautan dan Pertanian (KPKP) DKI Jakarta Suharini Eliawati mengatakan, berdasarkan SK Kementrian ATR/BPN tahun 2019, luas lahan baku sawah di Jakarta mencapai 414 hektare. Lahan tersebut tersebar di Jakarta Utara, Jakarta Barat dan Jakarta Timur.

"Jakarta kini semakin maju dan bisa disejajarkan dengan kota besar lainnya di dunia. Kemajuan kota Jakarta secara tidak langsung mendorong peningkatan kebutuhan pangan, sementara ketergantungan Jakarta terhadap pasokan pangan dari daerah lain sangat tinggi," ujarnya kepada VIVA, dikutip Kamis, 14 Oktober 2021.

Di sisi lain, dia melanjutkan, lahan produksi pangan semakin turun. "Sehingga perlu dilakukan upaya pemenuhan kebutuhan pangan dengan mengoptimalkan lahan yang ada," kata Eli akrabnya disapa.

Selain memanfaatkan lahan sawah, Eli mengatakan, produksi pangan di Jakarta juga dilakukan di lahan-lahan lain seperti pekarangan, lahan tidur, fasos dan fasum, gang hijau, rooftop, rusun dan lain-lain. Potensi lahan tersebut bisa mencapai 200 ha.

"Upaya lain yang dilakukan Jakarta untuk memenuhi kebutuhan pangan adalah dengan melakukan produksi di lokasi potensi lainnya seperti di perkantoran, sarana ibadah, sekolah dan lainnya. Total lokasi urban farming saat ini mencapai 648 lokasi," tambahnya.

Panen Padi di Sawah Ibu Kota

Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan memanen padi di kawasan Cakung

Photo :
  • VIVA/Anwar Sadat

Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan sempat ikut langsung memanen padi di kawasan Cakung, Jakarta Timur. Itu terjadi pada Selasa pagi 23 Januari 2018. Anies tiba di lokasi persawahan tersebut sekira pukul 06.20 WIB.

Memakai caping dan membawa arit, mantan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan itu mulai turun ke area penanaman padi jenis Inpari 22 tersebut. 

"Hari ini kita panen padi, di sawah yang ada di Jakarta. Dan di Jakarta masih ada sekitar 300 hektare sawah dan di lokasi ini ada 3 hektare sawah. Ditanam bulan Oktober, November dan sekarang sudah panen," kata Anies dalam kegiatan tersebut.

Menurut Anies, dalam satu hektar sawah dapat menghasilkan lima ton beras. Ia berharap agar warga Jakarta turut menjaga sawah yang ada di Jakarta agar dapat menjaga ekosistem dengan baik.

"Mari kita jaga sama-sama dan mari kita sadari Jakarta memiliki ekosistem yang lengkap, di sini ada juga lahan pertanian yang harus kita jaga," ujarnya

Anies berharap agar dari sawah-sawah yang ada di Jakarta dapat menghasilkan manfaat khususnya bagi warga DKI Jakarta. 

"Jadi harus dapat dipastikan juga hasil pertanian ini dapat dimanfaatkan hasilnya untuk warga Jakarta," ujarnya.

Sawah di Rorotan, Cilincing, Jakarta Utara.

Photo :
  • VIVA.co.id/ Willibrodus

Di Joglo Baru, Meruya Selatan, Jakarta Barat juga terdapat lahan seluas tiga hektare yang memproduksi beras berkualitas dengan kapasitas 24 ton per tahun. Jenis beras yang diproduksi adalah varietas ciherang dan inpari 30. Hasil produksinya pun disebut bisa sampai ke Jawa Barat dan Jawa Timur.

Sementara itu, Kandeg (48), salah satu petani sawah di Rorotan, Jakarta Utara mengaku telah menggarap ladang sawah sewaannya sudah sekitar 30 tahun.

Selama menjadi petani di Jakarta, ia melihat ladang sawah di Rorotan memang kian menyusut akibat pembangunan gedung-gedung besar dan perluasan pemukiman warga.

"Dulu lahan sawah ini sangat besar (luas), tapi setiap tahun ada pembangunan makanya berkurang. Dulu itu sekitar 60-an hektare, tapi sekarang mungkin cuma 30-an saja," kata Kandeg, saat ditemui VIVA di Rorotan.

Kandeg yang kini menggarap lima hektare sawah itu mengatakan, ia kini bekerja hanya untuk bertahan hidup bersama keluarganya. Pria asal Indramayu, Jawa Barat itu menyebut jika pembangunan yang memaksa ladang sawah semakin menyusut itu selalu datang secara tiba-tiba.

"Kita sekarang kerja buat makan aja, ya bertahan hidup lah. Saya bikin gubuk juga tuh di bawah apartemen itu. Sebelumnya di situ sawah kan itu, itu ada padinya digusur rumah susun itu, padinya udah merah dan tinggal dipanen," sebut dia.

Tapi, lanjut dia, rata-rata semua ladang tersebut memang adalah milik perusahaan. "Jadi kalau ada lahannya dibeli untuk pembangunan, kita petani ini mau buat apa? Kita enggak bisa menolak. Tau-tau aja lahannya udah dipagar, terus nanti digusur, lalu ada bangunan baru yang berdiri tuh," sambungnya.