Tujuh Wali Betawi Penyebar Islam

Makam Ki Balung Tunggal
Sumber :
  • VIVA.co.id/Dody Handoko
VIVA.co.id - Nama Wali Sanga sangat masyhur di kawasan Jawa Tengah dan Jawa Timur. Kisah-kisah kesaktian wali menjadi buah bibir di masyarakat. Nama-nama wali itu legendaris di semua kalangan. Makam mereka pun ramai diziarahi masyarakat. Bahkan mereka berombongan melakukan ziarah Wali Sanga dari ujung ke ujung Pulau Jawa.

Ternyata, di Jakarta, masyarakat Betawi mengenal nama Tujuh Wali penyebar Islam. Namun nama-nama mereka memang kurang popular dibandingkan nama Wali Sanga.

Menurut budayawan betawi H. Ridwan Saidi, dalam proses Islamisasi di Betawi terdapat tujuh wali Betawi. Antara lain, Pangeran Darmakumala dan Kumpi Datuk yang dimakamkan berdekatan, di tepi Kali Ciliwung, dekat Kelapa Dua, Jakarta Timur.

Kemudian Habib Sawangan, yang dimakamkan di depan Pesantren Al-Hamidiyah, Depok. Pangeran Papak, dimakamkan di Jalan Perintis Kemerdekaan, Jakarta Timur. Ema Datuk makamnya di Tanjung Kait, Mauk, Tangerang. Datuk Ibrahim makamnya di Condet. Wali Ki Aling, tidak diketahui makamnya.

“Ketujuh Wali Betawi ini hidup sebelum penyerbuan Fatahilah ke Sunda Kelapa,” kata Ridwan.

Tidak terlalu banyak orang yang tahu dan perduli pada keberadaan makam-makam wali penyebar Islam itu. Makam Datuk Ibrahim yang terletak di jalan Datuk Ibrahim, Condet, di dalam komplek musala ditumbuhi banyak rerumputan.

Meski dipagar besi, sekilas malah terlihat seperti taman bunga karena ditanami bunga-bunga. Juga tidak terdapat plang papan nama yang menunjukkan makam Datuk Ibrahim. Sama sekali tidak terlihat makam seorang ulama besar pada jamannya.

Seorang warga yang lewat yang ditanya mengaku tidak tahu menahu riwayat makam itu. ”Gak tau deh kuburan siapa, dari dulu juga udah ada,” katanya.

Menurut dia, peziarah juga sama sekali tidak pernah nongol di makam itu. Hal ini juga bisa dilihat di atas pekuburan sama sekali tidak terdapat bekas bunga peziarah yang biasa dijumpai di kuburan-kuburan keramat.

Kisah yang lebih mengenaskan lagi terjadi pada makam ulama Islam Ema Datuk di Tanjung Kait, Mauk, Tangerang. Makam ini telah berubah menjadi makam atau bong cina. Bangunan makam berarsitektur China, dicat merah, dan kuning menyala. Kuburan Ema Datuk juga telah diubah menjadi kuburan cina lengkap dengan altar persembahan.

Ridwan Saidi sempat terkejut melihat perubahan drastis itu. Padahal dia memiliki foto makam Ema Datuk yang masih seperti kuburan Islam pada umumnya, memakai cungkup dan nisan dari kayu. Ternyata di halaman luar masih terdapat atap bekas kuburan lama yang telah dibongkar.

“Setahu saya berubah menjadi begini sejak tahun 1963,” kata Liam Kien, juru kunci makam Ema Datuk.

Banyak Keajaiban

Dia juga bercerita kejadian gaib yang terjadi pada makam itu. Dulu ketika gunung Krakatau meletus, wilayah dekat kuburan itu satu-satunya yang bebas dari debu dan terjangan tsunami.

Padahal, di desa sekitar seperti desa Keramat, Kampung Melayu habis disapu air bah. Maka banyak orang menyelamatkan diri di makam itu.

Ridwan menjelaskan beberapa generasi setelah tujuh wali itu, terdapat Habib Husein Alaydrus yang dimakamkam di Luar Batang, tempat ia membangun masjid pada awal abad ke-18. Kong Jamirun dimakamkan di Marunda, Jakarta Utara.

Datuk Biru, makamnya di Rawabangke, Jatinegara. Serta Habib Alqudsi dari Kampung Bandan, Jakarta Utara. Datuk Tanggoro di Cililitan, Jaktim. Ki Balung Tunggal di Condet. (ren)

![vivamore="
Baca Juga
:"]

[/vivamore]