Polisi: Bom Alam Sutera Dimasukkan dalam Bungkus Rokok

Sumber :
  • VIVA.co.id/Ikhwan Yanuar

VIVA.co.id - Direktur Reserse Kriminal Umum Polda Metro Jaya, Komisaris Besar Polisi Krishna Murti, mengatakan bom rakitan yang meledak di Mall Alam Sutera, Tangerang, Banten, Rabu 28 Oktober 2015, dikemas di dalam sebuah bungkus rokok.

Hal itu diketahui, usai polisi melakukan penggeledahan di kediaman tersangka Leopard Wisnu Kumala (29) di Kompleks Banten Indah Permai Blok C9, Kelurahan Unyur, Kecamatan Serang, Kota Serang, Banten.

"Saat ke rumahnya tersangka, tim menemukan satu jenis bom aktif. Bom tersebut dibungkus pakai rokok. Kalau tidak teliti, dipegang saja bisa meledak, karena jenis bom tersebut dengan gesekan saja bisa meledak," ujar Krishna di Mapolda Metro Jaya, Jumat 30 Oktober 2015.

Krisna mengungkapkan, tim gabungan yang terdiri dari Polda Metro Jaya, Detasemen Khusus 88 Antiteror dan Gegana hampir terkelabui oleh beberapa bungkus rokok yang tersusun di atas meja kerja.

"Saat itu, tim gabungan mengira bungkus rokok tersebut tidak ada kaitannya dengan bom yang masih dicari dan dirakit oleh tersangka," ungkapnya.

Lebih lanjut, Krishna menuturkan, bom dalam bungkus rokok tersebut terdeteksi, ketika salah satu petugas tim gabungan mendeteksi barang tersebut dengan alat khusus pendeteksi dan penjinak bom. Sebab, tidak semua bungkus rokok yang ada dimeja tersebut berisi bahan peledak.

"Tidak bisa dibedakan kotak rokok biasa dan ada bahan ledaknya," ujar Krishna.



Sebelumnya, bom yang meledak di Mall Alam Sutera, Rabu 28 Oktober 2015 lalu, diketahui menggunakan bahan triacetone triperoxide peroxyacetone (TATP).

Bahan peledak jenis tersebut, memiliki daya ladak yang tinggi. Meski berdaya ledak tinggi, namun bom yang meledak saat itu menimbulkan efek kecil, karena material bom yang dipasang sedikit.

Kapolda Metro Jaya, Inspektur Jenderal Polisi Tito Karnavian, mengatakan bom yang dipasang tergolong tidak stabil. "Jenis bomnya tidak stabil dan high explosive," ujar Tito.

Tito juga menyebut, bom tersebut selain berbahaya karena tak stabil, bom tersebut mudah dibuat dari belajar di internet.

"Menggunakan peralatan yang ada di rumah tangga juga bisa," kata Tito. (asp)