Surat Cap Jempol Darah Untuk Megawati Agar Tolak Ahok

Front Wong Cilik demo tolak Ahok di DPP PDIP
Sumber :
  • Anwar Sadat

VIVA.co.id – Ratusan pengunjuk rasa dari Front Wong Cilik Bicara menggelar aksi unjuk rasa di depan Kantor DPP PDIP, Jalan Diponegoro, Jakarta Pusat, Rabu, 7 September 2016. Mereka meminta Ketua Umum PDIP Megawati Soekarnoputri tidak memberikan dukungan kepada Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) dalam Pilkada DKI 2017 mendatang.

Dalam aksi tersebut, massa mengirimkan surat kepada Megawati dan membacakannya. Surat tersebut dibubukan cap jempol darah dan dibacakan wanita bernama Desi, korban penggusuran Rawa Sengon, Tanah Merah, Kelapa Gading, Jakarta Utara.

Surat itu berisi curahan hati warga agar Megawati tak memilih Ahok untuk jadi Cagub DKI 2017. Warga juga mengajukan satu nama yang menurut mereka pantas menjadi pemimpin di DKI.

Berikut Isi lengkap dari surat tersebut.

Kepada Yth,
Ibu Megawati Soekarnoputri
Di Tempat

Yang terhormat Ibu Megawati Soekarnoputri, semoga Ibu senantiasa dalam keadaan sehat Wal afiat.

Ibu Mega, saat ini telah hampir memasuki 2 tahun sejak 19 November 2014 Jakarta berada dalam masa kelam. Bagi kami, harapan akan terbangunnya Jakarta Baru telah lama sirna. Terhitung sejak Jakarta secara resmi mulai dipimpin oleh sosok arogan bernama Basuki Tjahaja Purnama yang menggusur tanpa berdialog, mencaci rakyatnya sendiri, berbicara tanpa konsistensi, lalu perlahan tapi pasti menggantung demokrasi sebagai hiasan di sudut Balai Kota.

Ibu Mega, masa depan Jakarta saat ini telah lari menjauh dari awal sebuah cita-cita luhur Ir. Joko Widodo yang pernah menandatangani sebuah janji bersejarah pada Sabtu, 15 September 2012 di Muara Baru, Penjaringan, Jakarta Utara. Sebuah janji yang termaktub dalm kontrak politik Jakarta Baru yang pro rakyat miskin, berbasis pelayanan, dan partisipasi warga. Kontrak politik Jakarta Baru pun runtuh serupa puing-puing rumah warga yang dihancurkan Buldozer dari Balai Kota.

Ibu Mega, saat ini kami yang tergabung dalam Front Wong Cilik Bicara tak ingin Jakarta tenggelam dalam kemiskinan. Melalui surat ini kami mencoba menyuarakankembali suara rakyat Jakarta yang ingin bekerja untuk mewujudkan Jakarta Baru yang pernah dicanangkan. Demi untuk mewujudkan Jakarta Baru kami menginginkan pemimpin baru bagi kota kami tercinta. Kami sangat berharap melalui titah ibu sebagai juru selamat kami para wong cilik untuk tidak memilih Basuki Tjahaja Purnama yang telah terbukti anti wong cilik.

Kalaupun kami diminta memilih sosok yang tepat dan menjadi pilihan kami, maka satu nama yang bisa kami ajukan adalah Tri Rismaharini. Bagi kami, Tri Rismaharini tidak saja berprestasi saat memimpin Surabaya. Lebih dari itu, ia juga selalu bertindak dengan mempertimbangkan kondisi rakyatnya. Keputusan-keputusan penting diambilnya tanpa mengesampingkan suara rakyat. Seorang ibu yang sanggup memimpin dengan ketegasan dan disiplin tanpa merendahkan rakyatnya sendiri. Tri Rismaharini adalah pemimpin yang bekerja dan mendengar rakyat.

Ibu Mega yang kami hormati, kami berharap dengan membaca surat ini ibu dapat langsung merasakan apa yang kami rasakan, serta apa yang kami harapkan. Kami percaya bahwa Ibu adalah harapan akhir kami, karena masa depan hidup kami dan masa depan kota kami tercinta ada di tangan ibu. Doa dan suara kami para wong cilik, dan kami selalu berdoa semoga ibu selalu dalam lindungan Tuhan Yang Maha Esa, Amin Ya Robbal Alamin. Akhir kata, kami ucapkan terima kasih.

Sekian,

Jakarta 7 September 2016

Wong Cilik.