Penyebab Suara Ahok-Djarot Tertinggal Jauh dari Anies-Sandi

Dua pasangan calon peserta PIlkada DKI 2017, Ahok-Djarot dan Anies-Sandiaga Uno dalam debat kandidat putaran kedua.
Sumber :
  • ANTARA FOTO/M Agung Rajasa

VIVA.co.id – Direktur Eksekutif Media Survei Nasional, Rico Marbun, menyebutkan sejumlah penyebab calon Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahja Purnama dan Djarot Syaiful Hidayat, kalah dari pasangan Anies Baswedan dan Sandiaga Uno. Salah satunya, kontroversi dari video kampanye tim sukses Ahok-Djarot.

"Efek video yang disebar timses Ahok Djarot di bagian depan menurut saya menyulut kontroversi, walaupun itu dihapus itu sudah terlanjur disebar di mana mana," kata dia di sela-sela hasil hitung cepat, di Hotel Amaris Pancoran, Jakarta Selatan, Rabu 19 April 2017.

Dugaan lainnya, lanjut Rico, ialah dengan gencarnya pemberitaan tentang politik uang yang diduga dilakukan oleh salah satu pasangan calon, dengan membagi-bagikan sembako kepada warga. Menurut Rico, hal ini justru melukai integritas dari pemilih Jakarta yang cenderung lebih rasional.

"Adanya pembagian sembako di akhir yang diduga dari salah satu kandidiat itu justru melukai warga jakarta, walaupun belum ada yang dibawa ke ranah hukum, justru hal itu merusak elektabilitas. Mungkin dua hal itu yang membuat Ahok-Djarot turun," katanya.  

Dalam hasil hitung cepat terakhir yang dilakukan oleh Median pada pukul 15.30 dengan data masuk sebesar 81,62 persen, Anies dan Sandi berhasil unggul dengan perbandingan persentase 57,49 persen, berbanding 42,51 persen. Hasil ini menyisakan jarak yang cukup besar sekira 10 persen.

Pada hasil hitung cepat kali ini, median mengambil sampel di 320 TPS dari 13.034 TPS yang tersebar secara merata di enam wilayah administratif DKI Jakarta. Total pemilih sesuai dengan data Komisi Pemilihan Umum (KPU) ialah sebesar 7.218.280 orang.

Dengan jumlah 320 TPS yang dijadikan sampel dalam hitung cepat kali ini akan menghasilkan angka elektabilitas dengan tingkat kepercayaan sebesar 99 persen dan tingkat kesalahan dua persen.

"Walaupun belum 100 persen data masuk, namun tren elektabilitas suara sudah stabil, dengan tingkat margin of error dua persen, dan beda elektabilitas di atas dua persen, maka bisa kita nyatakan Anies-Sandi akan menjadi gubernur baru DKI Jakarta 2017-2022. Untuk hasil resmi kita akan menunggu rekapitulasi KPU," ujar Rico.