Sosok Gus Solah di Mata Mereka, Meski Berbeda Kita Diikat Persaudaraan

Salahuddin Wahid alias Gus Solah.
Sumber :
  • VIVA.co.id/Anhar Rizki Affandi

VIVA – Pimpinan Pondok Pesantren Tebuireng Jombang, KH Solahudin Wahid atau Gus Solah meninggal dunia di Rumah Sakit Harapan Kita Jakarta, Minggu, 2 Februari 2019, pukul 20.55 WIB. 

Mulai dari Presiden Joko Widodo hingga sejumlah tokoh dan masyarakat lainnya mengantar kepergian Gus Solah. Saat melayat di rumah duka, Senin 3 Febuari 2020, Joko mengungkapkan pertemuan terakhirnya dengan Gus Solah. Menurut Jokowi, Gus Solah banyak menyampaikan soal ke-Islaman dan kebangsaan. 

Berikut ini sejumlah kenangan dari para tokoh yang mengenal Gus Solah, yang dirangkum VIVA. 

Menteri Pertahanan RI, Prabowo Subianto

Prabowo menyampaikan bahwa kehadiran dirinya untuk menyampaikan penghargaan dan penghormatannya untuk Gus Solah. Ia pun menyebut bahwa sosok Gus Solah adalah sosok yang sangat penting.

"Kita kehilangan tokoh nasional, tokoh Islam yang menurut saya sangat penting. Kita sangat kehilangan," kata Prabowo.

Mantan Menag ?Lukman Hakim Saifuddin

Sosok Gus Solah merupakan seorang pimpinan organisasi masyarakat Islam terbesar di Indonesia, Nahdlatul Ulama. 

"Tokoh nasional kita yang sangat peduli dengan ajaran Islam yang moderat, Islam yang mampu mengayomi seluruh anak bangsa. Meski pun kita berbeda-beda, tapi beliau mampu mengatakan bahwa pada hakikatnya bahwa kita diikat oleh tali persaudaraan," kata Lukman Hakim Saifuddin di kediaman almarhum, Jakarta Selatan, Senin, 3 Februari 2019 dilansir dari VIVAnews

Tidak hanya persaudaraan sesama umat Islam, kata Lukman, tapi juga yang tidak kalah pentingnya diikat oleh persaudaraan bangsa. Dan yang lebih mendasar lagi diikat oleh sesama anak manusia. 

"Apa artinya, sekeras, setajam apapun perbedaan di antara kita tidak bisa sampai mengoyak atau merusak atau memutus ikatan persaudaraan kita karena kita pada hakikatnya sesama anak bangsa san sesama anak manusia. Mudah-mudahan ini bisa kita pegang dalam menjalani kehidupan ke depan," tuturnya.

Emha Ainun Nadjib

Budayawan, Emha Ainun Nadjib atau biasa akrab disapa Cak Nun ini mengatakan salah pesan Gus Solah yang disampaikan ke dirinya, yaitu agar Muktamar Nahdlatul Ulama pada tahun bebas dari politik uang. 

"Gus Solah itu cita-cita terakhirnya sebelum wafat adalah ingin mengawal Muktamar NU berikutnya, diusahakan supaya bebas dari money politic. Itu cita-cita Gus Solah sebelum meninggal. Jadi, muktamar NU yang berlangsung bersih sebagaimana khitohnya dulu," kata Cak Nun.

Gus Sholeh itu, kata Cak Nun, setiap orang itu sebagaimana kalau padi itu tidak bisa digantiin jagung, tapi jagung juga enggak bisa digantiin padi. 

"Jadi, Gus Dur besar, Gus Solah juga orang besar. Cuma Gus Solah bukan Gus Dur, Gus Dur bukan Gus Solah, jadi fungsi dan perannya berbeda," katanya. 

Mendagri Tito Karnavian

Menteri Dalam Negeri, Tito Karnavian mengenang sosok almarhum Pimpinan Pondok Pesantren Tebuireng, Jombang, KH. Salahudin Wahid atau Gus Solah. 

"Saya melihat bahwa pribadi beliau adalah pribadi yang sederhana kemudian terus terang sangat baik hati juga kritis," kata Tito Karnavian di kediaman almarhum, Gus Solah, Minggu malam, 2 Februari 2020.

Tapi, kadang Tito ketika menjabat sebagai Kapolri maupun ketika menjabat sebagai Kapolda Metro Jaya sering mendapat kritik dari almarhum Gus Solah tersebut. 

"Contoh kritik? Misalnya mengenai Polri, dan lain-lain. Itu kira-kira. Saya juga banyak cerita Soal NU soal Tebu Ireng. Waktu saat saya menjadi Kapolda Metro saya sering meminta saran pada beliau," katanya. 

Tito sendiri memang kerap bersilaturahmi ke Gus Solah, bahkan tahun lalu sempat menyambangi Pesantren Tebu Ireng.