Kisah Para Pendengung
- www.pixabay.com/tookapic
Menurut Enda, momentum yang paling terasa akan peran buzzer terjadi pada tahun 2014, ketika pertama kali Jokowi menang di Pilpres. Bagaimana dukungan publik lewat media sosial ternyata bisa mempengaruhi opini publik, bahkan kepada mereka yang tidak menggunakan teknologi digital. "Jadi seolah-olah ada kemenangan moral di media sosial dan kemudian membuat Jokowi jadi presiden pada saat itu," ujar Enda kepada VIVAnews.
Pilkada DKI 2016
Perkembangan pesat terasa sejak 2014 hingga 2019. Sebab, periode ini banyak kasus yang terjadi. Salah satunya adalah Pilkada DKI tahun 2016, yang menjadi contoh konkrit bagaimana perang di ruang digital berimplikasi besar. Pilkada di beberapa daerah pada tahun 2018 juga menjadi ajang pertarungan sengit di ruang digital.
"Nah, puncaknya ini terjadi kemarin di 2019, masing-masing pihak sudah punya persiapan untuk menyiapkan pasukan sendiri, dengan berbagai macam strategi tentunya. Ada yang menggunakan strategi dengan menggunakan identitas yang tidak jelas, ada yang mengumpulkan relawan, ada yang mengumpulkan endorser-endorser, dan termasuk juga mengumpulkan tenaga-tenaga buzzer lainnya," tutur Enda.
Kartika Djumadi, pengamat media sosial lainnya mengatakan, penggunaan buzzer adalah hal yang wajar dalam dunia usaha. Banyak brand menggunakan buzzer untuk meningkatkan engagement di media sosial.
Istilah buzzer sudah ada sejak era digital marketing mulai berkembang di dunia usaha pada tahun 2002, dan semakin marak setelah social network services (SNS) menyediakan banyak platform media sosial sebagai tools untuk menyebarkan informasi, seperti facebook, twitter, Instagram, YouTube dan lain lain.
Dalam digital marketing ada istilah “buzz marketing” yang dilakukan oleh korporasi untuk meningkatkan “commercial engagement” di media sosial. Kemudian ada juga istilah “viral marketing” yang merupakan implikasi dari engagement konsumen di media sosial sehingga informasi yang diperbincangkan menjadi tersebar selayaknya virus.
Kartika mengatakan, buzzer adalah para opinion leaders dan informal leaders yang awalnya digunakan korporasi untuk meningkatkan “commercial engagement” terhadap image perusahaan, produk maupun di media sosial agar brand tersebut menjadi viral atau diperbincangkan oleh banyak konsumen maupun calon konsumen.
"Belakangan buzzer juga banyak digunakan oleh para politisi maupun entitas politik sejak era political marketing berkembang di dunia," ujarnya.