Halo
Pembaca

VIVANetworks

News

Bola

Sport

Showbiz

LifeStyle

Otomotif

Digital

Ragam

Militer

Netizen

Lintas

Informasi

10 Catatan Perjalanan Haji Indonesia Tahun 2019 

Sabtu, 28 Desember 2019 | 09:58 WIB
Foto :
  • Darmawan/MCH2019
Jemaah Haji Miqat di Bir Ali

VIVA – Tahun 2019 menjadi tahun bersejarah bagi penyelenggaraan ibadah haji Indonesia. Tak hanya karena pada tahun 2019, Indonesia mendapatkan kuota jemaah haji terbanyak di dunia, jemaah Indonesia juga mendapatkan banyak fasilitas dan layanan prioritas dibanding jemaah dari negara lainnya. 

Pada tahun ini, Kementerian Agama selaku regulator dari penyelenggaraan haji Indonesia, melakukan banyak terobosan untuk peningkatan layanan jemaah. Mulai dari transportasi bus Shalawat, akomodasi hingga katering.

Baca Juga

Kebahagian jemaah haji Indonesia tahun 2019 semakin bertambah dengan penambahan dan peningkatan fasilitas dari pemerintah Arab Saudi. Jemaah Indonesia menjadi pilot project layanan imigrasi di Arab Saudi, sehingga masa tiba/kedatangan dan kepulangan di bandara menjadi lebih singkat.

Berikut, rangkaian peristiwa dan fakta yang mengiringi penyelenggaraan ibadah haji 2019/1440H:

1. Kuota Haji Terbesar di Dunia 

Kuota haji Indonesia pada tahun 2019 ini menjadi yang terbesar di dunia. Indonesia mendapat tambahan kuota 10 ribu. Dengan kuota normal sebanyak 221.000 jemaah ditambah 10 ribu, sehingga total jemaah haji Indonesia tahun 2019 berjumlah 231.000 jemaah.

Dengan penambahan ini, menempatkan Indonesia sebagai negara pengirim jemaah haji terbesar di dunia. 

Menteri Agama, Lukman Hakim Saefuddin menegaskan, dengan penambahan kuota haji 10 ribu orang, maka total jemaah haji Indonesia pada musim haji 2019/1440 Hijriah menjadi yang terbesar di dunia, yakni sebesar 231 ribu orang.

"Ini sejarah sebuah negara memberangkatkan sebesar 231 ribu (jemaah), terbesar dalam sejarah umat manusia," kata Lukman, saat membuka kegiatan 'Pembekalan Terintegrasi Petugas Arab Saudi' di Asrama Haji Pondok Gede, Jakarta, Selasa 23 April 2019.

Adapun jumlah petugas haji yang turut membantu dalam penyelenggaraan tahun ini sebanyak 4.807 orang, yang terbagi dalam petugas yang menyertai jemaah sebanyak 2.645 petugas dan non kloter sebanyak 2.162 petugas.

2. Biaya Termurah se-ASEAN

Pemerintah menyepakati besaran rata-rata Biaya Penyelenggaraan Ibadah Haji (BPIH) tahun 1440H/2019M adalah rata-rata sebesar Rp35,235.602. Atau, setara dengan US$2.481 (kurs 1 dollar AS =Rp14.200)

Jika dilihat kurs Rupiah, BPIH tahun ini sama dengan besaran BPIH tahun lalu, yaitu rata-rata sebesar Rp35.235.602,-. Namun, jika dalam kurs dolar AS, BPIH tahun ini justru lebih rendah US$151. Sebab, rata-rata BPIH tahun 2018 sebesar US$2.632.

"BPIH Indonesia adalah yang paling murah di antara negara-negara ASEAN yang mengirimkan jemaah haji ke Arab Saudi," kata Menag Lukman Hakim usai penandatanganan kesepakatan mengenai BPIH di Gedung DPR RI, Senayan, Jakarta, Senin, 4 Februari 2019.

Merujuk data kurun waktu empat tahun terakhir, rata-rata biaya haji Brunei Darussalam berkisar di atas US$8.000, yaitu US$8.738 (2015), US$8.788 (2016), US$8.422 (2017), dan US$8.980 (2018).

Untuk Singapura, rata-rata di atas US$5.000, yaitu, US$5.176 (2015), US$5.354 (2016), US$4.436 (2017), dan US$5.323 (2018). Sementara Malaysia, rata-rata biaya haji sebesar US$2.750 (2015), US$2.568 (2016), US$2.254 (2017), dan US$2.557 (2018).

Adapun rata-rata BPIH Indonesia pada 2015 sebesar US$2.717. Sementara itu, tiga tahun berikutnya adalah US$2.585 di 2016, US$2.606 di 2017, dan US$2.632 dolar AS di 2018.

Sekilas, BPIH Indonesia lebih tinggi dari Malaysia. Namun, kata Menag, sebenarnya lebih murah karena dari biaya yang dibayarkan jemaah, ada US$400 atau setara 1.500 Riyal Saudi yang dikembalikan lagi kepada setiap jemaah haji sebagai biaya hidup (living cost) di Tanah Suci. 

3. Fast Track

Karena jumlahnya terbesar dan terbaik di dunia, Pemerintah Arab Saudi menjadikan jemaah haji Indonesia sebagai pilot project layanan haji, dengan selalu dilibatkan dan diutamakan dalam penerapan kebijakan baru regulasi haji di Arab Saudi.

Seperti saat penerapan regulasi e-Hajj tahun 2014, Pemerintah Arab Saudi meminta Indonesia sebagai negara yang pertama kali menerapkan sistem haji elektronik bagi calon jemaah hajinya.

"Demikian juga, saat diberlakukan perekaman biometrik. Indonesia yang diminta paling pertama," kata Direktur Pelayanan Haji Luar Negeri, Sri Ilham Lubis di Asrama Haji Pondok Gede, Rabu 24 April 2019.

Pada tahun 2019 ini, sekitar 70 ribu atau 33 persen jemaah haji Indonesia mendapatkan fasilitas fast track atau jalur cepat keimigrasian di Arab Saudi. Setidaknya ada lima kloter dari dua embarkasi (JKS-JKG) yang menikmati layanan fast track.

Secara teknis, layanan Fast Track dapat menghemat waktu jemaah setibanya di bandara tujuan. Sebab, proses pre departure clearence atau pengecekan dokumen keimigrasian, seperti visa dan paspor, sudah dilakukan sejak di bandara asal.

Read more...
Topik Terkait
Saksikan Juga
Terpopuler