Halo
Pembaca

VIVANetworks

News

Bola

Sport

Showbiz

LifeStyle

Otomotif

Digital

Ragam

Militer

Netizen

Lintas

Informasi

Bambang Widjojanto Kritisi RDP Tertutup KPK dan DPR

Rabu, 8 Juli 2020 | 17:28 WIB
Foto :
  • ANTARA FOTO/Oky Lukmansyah
Bambang Widjojanto

VIVA – Rapat Dengar Pendapat (RDP) antara Komisi III DPR dan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) era Firli Bahuri cs, yang berlangsung secara tertutup, kembali disoroti mantan pimpinan KPK Bambang Widjojanto.

BW, sapaan karib Bambang Widjojanto, menilai hal itu melanggar prinsip keterbukaan yang tercantum di dalam Undang Undang KPK.

"Ada prinsip penting di dalam UU KPK yang dilanggar, yaitu prinsip keterbukaan," kata BW kepada awak media, Rabu, 8 Juli 2020.

Baca juga: Rapat Tertutup Bareng KPK, DPR Bahas Kasus dan Penyadapan

Menurut BW, harus ada alasan yang kuat untuk bisa menjelaskan kenapa RDP tersebut harus dilakukan secara tertutup. Apalagi, baru pertama kali di era Firli cs, RDP berlangsung di KPK.

"Fakta ini semakin menjelaskan perbedaan yang sangat fundamental antara pimpinan KPK saat ini dengan banyak periode kepemimpinan KPK sebelumnya, yang nyaris menabukan rapat tertutup seperti ini," kata BW.

Tak hanya itu, kata BW, rapat yang berlangsung secara tertutup itu juga menimbulkan pertanyaan di publik. "Apakah rezim KPK saat ini tengah bersekutu dan dibayangi kuasa kegelapan," ujarnya.

Karena itu, BW meminta, pimpinan KPK jilid V menghentikan segala tindakan yang berpotensi menggerus kepercayaan publik pada lembaga antirasuah.

"Menyadari dan insyaf pada amanah yang berat, yang harus ditanggung pimpinan KPK, jauh lebih bermakna bagi upaya pemberantasan korupsi," tutur BW.

Sebelumnya, Ketua Komisi III DPR, Herman Hery, menyampaikan alasan dilakukannya RDP tertutup, yakni karena ada hal sensitif yang bakal ditanyakan anggota Komisi III ke pimpinan KPK. Untuk itu, RDP disepakati dilakukan secara tertutup.

Menurut Herman, keputusan itu merupakan keputusan dua pihak. Ia juga mengatakan, tidak ada aturan yang dilanggar jika RDP dilakukan secara tertutup.

"Soal tertutup dan terbuka tidak ada aturan yang melarang, tergantung kesepakatan. Jadi, tidak ada aturan yang diperdebatkan kenapa terbuka, kenapa tertutup. Semua tergantung urgensi menurut pendapat kedua belah pihak," kata Herman.

Baca Juga
Topik Terkait
Saksikan Juga
Terpopuler