Halo
Pembaca

VIVANetworks

News

Bola

Sport

Showbiz

LifeStyle

Otomotif

Digital

Ragam

Militer

Netizen

Lintas

Informasi

Sudahkah Indonesia Punya Sistem Pelacakan Kontak COVID-19 yang Benar

Rabu, 12 Agustus 2020 | 07:42 WIB
Oleh :
Foto :
  • abc
Petugas kesehatan mengambil sampel usap pekerja kereta komuter saat tes di tengah wabah virus corona (COVID-19), di Bogor, Jawa Barat (27/04/2020).

Mendeteksi dini penularan serta pelacakan kontak setelah seseorang dinyatakan positif tertular virus corona menjadi bagian penting dalam menangani pandemi COVID-19. Apakah hal tersebut sudah dilakukan dengan benar di Indonesia?

Kamis pekan lalu (06/08), Yohanes Ari, warga Jabodetabek, berinisiatif melakukan tes PCR mandiri COVID-19 di sebuah rumah sakit swasta di Bekasi, Jawa Barat.

Baca Juga

Sebenarnya tidak ada gejala yang dirasakan Ari, demikian ia biasa dipanggil, tetapi kantor tempatnya bekerja memilih waspada menyusul maraknya klaster perkantoran di Jabodetabek.

Tiga hari menunggu, hasil tes Ari dikirim melalui email, Sabtu kemarin (08/08) atas permintaannya sendiri.

"Kalau mau hasilnya keluar lebih cepat dari tiga hari sebenarnya bisa, tapi bayarnya lebih mahal. Polanya sama di semua rumah sakit begitu," kata Yohanes Ari kepada Hellena Souisa dari ABC Indonesia.

"Untuk bisa menerima via email, saya harus membuat pernyataan pelepasan informasi. Jadi petugas rumah sakit diperbolehkan membuka amplop hasil tes untuk di-scan dan dikirim. Hasilnya positif."

Petugas mengambil sampel cairan dari hidung dan tenggorokan warga saat mengikuti swab tes di RS Pertamina Jaya, Jakarta, Selasa (5/5/2020).

Supplied: ANTARA FOTO/Indrianto Eko Suwarso.

"Bingung" karena tak ada arahan

Setelah menerima hasil tesnya melalui email, Ari mengaku bingung karena tidak ada instruksi lebih lanjut dari rumah sakit setelah hasil tesnya positif.

Ia sempat menduga akan dihubungi oleh pihak rumah sakit yang akan menjelaskan apa yang harus ia lakukan sebagai pasien positif corona,.

"Ternyata enggak ada apa-apa. Jadi saya nggak dikasih arahan, nggak dihubungi, bahkan sekedar diberikan informasi apa yang harus dilakukan pun tidak. Saya dibiarkan begitu saja," kata Ari.

"Artinya kalau saya mau mengabaikan hasil itu, sebenarnya enggak ada juga yang tahu dan saya bisa saja berkeliaran," tambah karyawan yang berkantor di pinggiran Jakarta Timur ini.

Tapi Ari memilih untuk melapor dan berkoordinasi dengan kantornya, kemudian menjalankan isolasi mandiri di tempat kostnya sampai 14 hari ke depan.

Baca juga berita terkait pandemi corona Baca juga artikel terkait:New normal di Indonesia: Kasus penularan naik, tes corona jadi ladang bisnisAngka kematian di Indonesia sudah lebih dari 10 ribu jika dihitung berdasarkan pedoman WHOPemerintah Indonesia dianggap menggunakan pendekatan militeristik dalam menangani virus coronaAlasan tingginya kematian tenaga kesehatan di Indonesia di tengah pandemi virus corona

Selain tidak adanya arahan dari pihak rumah sakit, Ari juga mengaku tidak ada mekanisme pelacakan yang dijalaninya.

"Saya tidak bisa mengetahui terinfeksi di mana dan kapan. Pihak rumah sakit tidak bertanya juga soal riwayat perjalanan saya dan dengan siapa saja saya melakukan kontak erat," kata Ari.

Ari akhirnya berinisiatif untuk menghubungi sendiri orang-orang yang pernah berinteraksi atau yang bertemu langsung dengannya selama dua minggu terakhir.

"Jadi ya inisiatif pribadi saja, saya hubungi mereka satu-satu untuk memberitahu hasil tes saya supaya mereka waspada dan kalau memungkinkan bisa tes juga," tutur Ari

Ilustrasi

Lihat artikel asli
Topik Terkait
Saksikan Juga
Terpopuler