Halo
Pembaca

VIVANetworks

News

Pilkada

Bola

Sport

Showbiz

LifeStyle

Otomotif

Digital

Ragam

Militer

Netizen

Lintas

Informasi

Mengenalkan La Galigo, Sastra Kuno Asli Indonesia Terpanjang di Dunia

Sabtu, 24 Oktober 2020 | 17:34 WIB
Oleh :
Foto :
  • bbc
Naskah La Galigo yang asli ditulis dalam lembaran daun lontar.-LEIDEN UNIVERSITY LIBRARIES OR. 5475

Sebuah karya sastra asal Sulawesi Selatan yang ditulis ratusan tahun lalu memuat nilai demokrasi, kesetaraan gender, hingga penghormatan pada kelompok transgender. Sekelompok anak muda tengah berupaya memperkenalkan dan melestarikan karya itu.

Naskah kuno itu adalah La Galigo, yang disebut sebagai karya sastra terpanjang di dunia dan diakui oleh UNESCO sebagai bagian Ingatan Kolektif Dunia tahun 2011 silam.

Baca Juga

Baru segelintir dari ratusan ribu bait sastra berbahasa Bugis kuno itu yang telah diterjemahkan dalam bahasa Indonesia karena keterbatasan biaya dan sumber daya manusia, kata seorang peneliti.

Menurut peneliti tersebut, sebanyak 12 jilid naskah itu tersimpan di Universitas Leiden, Belanda, dan banyak lainnya yang terserak di sejumlah negara, seperti Amerika Serikat dan Australia, membuat total panjang naskah itu "masih belum bisa diperkirakan".

`Seperti the Lord of the Rings`

Louie Buana, 29, terpukau saat pertama kali membaca ringkasan cerita La Galigo terbitan Universitas Gadjah Mada (UGM) Press di bangku kuliah dulu.

Kata `La Galigo` memang selalu ada di kepalanya sejak ayahnya menjelaskan padanya bahwa tak hanya Jawa dan Bali yang memiliki karya sastra asli. Sulawesi pun punya karya sastra sendiri, yakni La Galigo.

Namun, pemuda asli Makassar itu tak pernah tahu secara spesifik isi cerita itu, sampai dia kemudian membaca ringkasannya.

"Saya baca dan kaget. Wah, ini kok keren banget ya? Ini ceritanya kayak the Lord of the Rings. Ceritanya kalau dibikin jadi film kolosal bisa banget," kata Louie, merujuk kisah fiksi karya penulis Inggris, JRR Tolkien.

"Imajinasinya orang Bugis saat itu gila banget. [Saya] sudah kayak... larut dalam bacaan La Galigo sampai bisa bayangin cerita film fantasi," tambahnya.

Sejak saat itu, Louie mendalami dan meneliti cerita dan tokoh-tokoh dalam La Galigo, yang disebutnya "seakan terlupakan, dormant, dan hibernasi terlalu lama".

Bersama kawannya, Maharani Budi, 30, dan dua temannya yang lain, Louie lalu membentuk `Lontara Project` untuk memperkenalkan La Galigo pada kalangan anak muda.

Hal itu didorong pula oleh keinginan mereka untuk melawan stigma `gemar tawuran` yang menempel pada pemuda Makassar, dengan memperkenalkan sesuatu yang positif dari tanah Sulawesi.

Sejak 2011, mereka mengumpulkan relawan-relawan untuk berpartisipasi dalam sejumlah proyek mempromosikan La Galigo melalui medium musik, desain grafis, hingga diskusi-diskusi.

Awal tahun depan, mereka berencana meluncurkan sebuah buku visual La Galigo yang menyasar anak muda.

"Kami rencananya mau merangkum isi-isi La Galigo yang kami pelajari selama 10 tahun belakangan dalam bentuk buku, yang kami sebut mini ensiklopedia La Galigo."

"Tentunya dengan bahasa yang lebih menarik untuk generasi muda dan disertai 1001 visualisasi untuk memudahkan pembaca," kata Maharani.

Interpretasi seni La Galigo sendiri sebelumnya sudah ditampilkan oleh sutradara asal Amerika Serikat, Robert Wilson.

Ia menggelar pertunjukan teater di AS, beberapa negara Eropa, Asia, dan di Jakarta tahun 2019 lalu.

Apa isi La Galigo?

Profesor Nurhayati Rahman, pakar filologi Universitas Hasanuddin, Makassar, yang telah mendedikasikan lebih dari 30 tahun masa hidupnya untuk mempelajari La Galigo, mengamini keunikan karya sastra itu.

Ia menjelaskan karya yang diperkirakan sudah ada sejak abad-14 itu, awalnya diceritakan secara tutur, kemudian ditulis di lembaran-lembaran daun lontar.

Karya itu, katanya, menggambarkan sifat perantau dan karakter khas orang Bugis "dengan segala kelebihan dan kekurangannya".

Lihat artikel asli
Topik Terkait
Saksikan Juga
Terpopuler