Halo
Pembaca

VIVANetworks

News

Pilkada

Bola

Sport

Showbiz

LifeStyle

Otomotif

Digital

Ragam

Militer

Netizen

Lintas

Informasi

Panas, Politikus PKS ke Kapitra: Sumbu Anda Pendek

Rabu, 25 November 2020 | 06:19 WIB
Foto :
  • tvOne
Perdebatan Kapitra Ampera dengan politikus PKS Nasir Jamil

VIVA –  Penurunan baliho Imam Besar Front Pembela Islam (FPI) Habib Rizieq Shihab atau HRS yang melibatkan prajurit TNI memantik kontroversi. Perdebatan antara suara yang pro dan kontra pun terus bermunculan.

Hal ini dibahas dalam acara Apa Kabar Indonesia Malam tvOne yang mengangkat tema 'Gaduh baliho HRS pun mereda'. Ada empat narasumber yang dihadirkan yaitu Wakil Sekretaris Umum DPP FPI Azis Yanuar, anggota DPR dari Fraksi PKS Nasir Jamil, politikus PKPI Teddy Gusnaidi, dan politikus PDIP Kapitra Ampera.

Baca Juga

Awal diskusi dimulai dengan pernyataan Azis Yanuar yang menanggapi banjir karangan bunga di Kodam Jaya sebagai dukungan untuk Pangdam Jaya Mayjen Dudung Abdurachman. Bagi Azis, karangan bunga biasa saja tak mempresentasikan.

"Kemarin HRS disambut jutaan enggak ada apa-apanya dengan karangan bunga, jadi kita mah biasa saja. Waktu Ahok juga gitu, dikasih karangan bunga," kata Azis dikutip VIVA pada Rabu, 25 November 2020.

Azis menjelaskan banyak baliho HRS yang terpasang di berbagai daerah karena bentuk kecintaan masyarakat terhadap Imam Besar FPI itu sebagai tokoh agama. Kata dia, ajakan revolusi akhlak ala HRS dan imbauan soal amar ma'ruf dan nahi munkar didengar masyarakat.

Teddy Gusnadi yang dapat giliran bicara pun menyerang Azis. Ia menganggap penjelasan kuasa hukum FPI tersebut soal kecintaan masyarakat terhadap HRS adalah sampah.

Ia menuding FPI juga kebakaran jenggot menyikapi baliho HRS yang marak diturunkan aparat TNI. Hal ini yang kemudian ada persepsi seolah peran TNI dikerdilkan.

Azis meresponsnya dengan membantah dan menertawakan pernyataan Teddy.

Perdebatan panas dimulai saat Nasir Jamil yang dapat kesempatan bicara. Ia meminta Teddy jangan menuduh ada pihak yang mengkerdilkan TNI. Jika ada, maka pihak itu harus dilawan.

"Karena TNI itu lahir dari rahim rakyat. Jadi, jangan mudah kita menunjuk seolah-olah polanya ingin mengkerdilkan TNI," kata Nasir. 

Nasir ingin mengarahkan diskusi dengan memakai data aturan tentang pelibatan tugas TNI. Ia menekankan masyarakat perlu dapat penjelasan alasan baliho HRS dicopotin aparat TNI.

Topik Terkait
Saksikan Juga
Terpopuler