Halo
Pembaca

VIVANetworks

News

Bola

Sport

Showbiz

LifeStyle

Otomotif

Digital

Ragam

Militer

Netizen

Lintas

Informasi

Mengenang Saat Tsunami Ratakan Anyer Banten

Selasa, 22 Desember 2020 | 13:44 WIB
Foto :
  • VIVA/Yandi Deslatama
Tsunami di Anyer tahun 2018 tinggalkan puing dan reruntuhan

VIVA – Tsunami senyap Selat Sunda telah meluluhlantakkan pesisir Banten dan Lampung dua tahun lalu, tepatnya 22 Desember 2018, sekitar pukul 21.47 wib. Tsunami yang disebut-sebut pertama di dunia, tanpa di dahului gempa bumi tektonik berkekuatan besar itu sebagai tanda peringatan bagi manusia.

Sehari sebelum terjadinya tsunami, 21 Desember 2018, sekitar pukul 13.51 wib, Gunung Anak Krakatau (GAK) meletus, ketinggian kolom abu berwarna hitam mencapai 400 meter di atas puncak, statusnya kala itu level II. Kemudian, masih di tanggal yang sama, BMKG mengeluarkan peringatan dini gelombang tinggi antara 1,5-2,5 meter yang akan terjadi tanggal 22-25 Desember 2020.

Baca Juga

Kemudian tanggal 22 Desember 2018 pukul 20.56 Wib terjadi erupsi GAK yang memicu longsornya lereng gunung tersebut. Estimasi luasan longsoran tersebut sekitar 64 hektar. Kemudian pukul 21.03 Wib di tanggal yang sama, sensor seismograph BMKG di Cigeulis, Kabupaten Pandeglang (CGJI) dan beberapa sensor di wilayah Banten serta Lampung mencatat adanya getaran, namun sinyal yang tercatat tersebut bukan merupakan getaran gempabumi tektonik, sehingga sistem pendeteksi gempa BMKG tidak memproses secara otomatis. Sistem peringatan dini tsunami Indonesia (InaTEWS) dibangun untuk mendeteksi gempa-gempa tektonik.

"Sekitar pukul 21.30 wib, petugas BMKG mendapat laporan kepanikkan masyarakat di wilayah Banten dan Lampung, karena air laut pasang yang tidak normal. Saat itu juga petugas melakukan pengecekkan perangkat monitoring pasang surut air laut (tide gauge) yang dioperasionalkan oleh Badan Informasi Geospasial (BIG)," kata Kepala BMKG Stasiun Geofisika Klas I Tangerang, Suwandi, dalam rilis resminyarce.

Topik Terkait
Saksikan Juga
Terpopuler