Halo
Pembaca

VIVANetworks

News

Bola

Sport

Showbiz

LifeStyle

Otomotif

Digital

Ragam

Militer

Netizen

Insight

Informasi

Hari Purbakala: Menelisik Lukisan Tertua Dunia yang Ada di Indonesia

Senin, 14 Juni 2021 | 11:20 WIB
Oleh :
Foto :
  • bbc
BBC Indonesia

BBC News Indonesia menjelajahi tiga dari ratusan gua di Maros-Pangkep, Sulawesi Selatan, tempat lukisan cadas tertua di dunia ditemukan. Peneliti mengatakan akan banyak kejutan baru mengenai asal-usul manusia modern dari temuan di gua-gua purbakala ini.

Sulawesi diyakini sebagai salah satu wilayah kunci bagi kehidupan awal manusia modern (Homo sapiens).

Baca Juga

Di kawasan karst terbesar kedua dunia di Kabupaten Maros-Pangkajene Kepulauan (Maros-Pangkep), Selawesi Selatan, tersebar 296 gua yang di dalamnya terdapat lukisan berusia ribuan tahun.

Beberapa di antara lukisan-lukisan itu telah diteliti sebagai gambar hewan tertua di dunia - juga diyakini menunjukkan tingkat kecerdasan pembuatnya, termasuk kandungan nilai spiritualitas.

Seorang peneliti mengatakan, temuan terbaru ini telah mengguncang jagat arkeolog tentang awal kemunculan "Ledakan Kognitif" manusia modern di Asia.

Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Sulawesi Selatan meyakini akan muncul kejutan-kejutan lain dari penelitian yang terus dilakukan, karena sejauh ini baru 3,5?ri seluruh gua purba di wilayah tersebut yang terungkap.

Namun, penelitian terbaru menunjukkan keberadaan lukisan purba ini mengalami percepatan kerusakan karena dampak perubahan iklim.

 

BBC
Leang Tedongnge, keberadaannya tersembunyi di antara perbukitan karst Kabupaten Pangkep, Sulawesi Selatan.

 

Leang Tedongnge di Kabupaten Pangkajene Kepulauan menyimpan lukisan manusia modern pertama yang diyakini tertua di dunia. Lukisan purba ini berupa adegan tiga babi sulawesi (Sus celebensis). Usianya ditaksir lebih dari 45.500 tahun yang lalu.

Temuan terbaru, satu dari ratusan gua di kawasan perbukitan Karst Maros-Pangkep, ini telah dipublikasi dalam jurnal Science Advance Januari lalu.

Leang Tedongnge lokasinya tersembunyi di Pangkajene Kepulauan, jauh dari jangkauan masyarakat umum. Berada di tempat yang dirahasiakan, untuk menghindari kerumunan yang dapat menyebabkan lukisan di bebatuan cadas ini rusak.

Namun, BBC News Indonesia telah mendapat izin dari BPCB setempat untuk memasukinya.

Perjalanan menuju Leang Tedongnge dimulai dari sebuah desa di pinggiran Kabupaten Maros. Dari situ, kami harus berjalan kaki melewati perkampungan warga, menapakkan kaki pada lumpur di pinggiran persawahan.

Di tengah perjalanan, kami berjumpa dengan gerombolan sapi berkalung lonceng yang sedang digiring petani. Suara loncengnya berdentang menjadi penanda, bahwa kami segera memasuki jalan setapak menuju perbukitan karst yang mencakar-cakar langit.

 

BBC
Kawasan karst di Kabupaten Pangkep, Sulawesi Selatan menjadi saksi keberadaan manusia modern pertama yang hidup di Celebes. Sulawesi diesbut sebagai sisa tanah yang sangat purba yang telah banyak mengalami revolusi beragam.

 

Berbeda dengan bukit pada umumnya, bukit karst ini menyediakan jalan setapak dengan batu-batu cadas dan tajam. Besarnya beragam, mulai dari kepalan tangan sampai sebesar sapi. Meskipun terlihat keras, tapi bebatuan ini rapuh dan mudah menggelinding ke bawah.

Jalan menanjak 45-60 derajat dengan beban tas punggung belasan kilogram, membuat kami harus berhati-hati dalam melangkah. Mati rasa pada bagian betis dan pangkal paha adalah keniscayaan, meskipun harga perjalanan ini terbayar dengan keindahan bunga-bunga yang tumbuh di antara bebatuan karst.

Bentang alam karst di Maros-Pangkep, Sulawesi, diyakini sebagai kedua terbesar di dunia setelah karst di China. Saat ini sedang diusulkan menjadi situs warisan budaya dunia (world heritage) ke UNESCO. Luas perbukitan karst di Maros-Pangkep mencapai 46.200 hektar.

 

BBC
Teori migrasi Homo Sapiens Asia-Indonesia berdasarkan temuan artefak dan rock art

 

Koresponden Sains BBC News, Jonathan Amos mengatakan Sulawesi salah satu wilayah utama. Wilayah ini memiliki ragam hewan dan tumbuhan yang unik.

Dalam The Malay Archipelago (1869), naturalis Alfred Russel Wallace mengatakan Sulawesi sebagai "[pulau yang] dalam banyak hal paling luar biasa dan penting dari seluruh wilayah, atau mungkin di dunia, karena tak ada pulau lain yang kelihatannya menghadirkan begitu banyak teka-teki untuk dipecahkan."

 

M. Kottermair dan A. Jalandoni/Science Advances
Peta Maros-Pangkep

 

Wallace menemukan jenis hewan seperti babirusa, anoa dan babi sulawesi (Sus celebensis) yang hanya terdapat di pulau yang dulu dikenal sebagai Celebes ini. Begitu pun dengan jenis burung dan mamalia Sulawesi yang nampaknya hanya sedikit ditemukan di bagian dunia lain.

Oleh karena itu, Wallace menyebut Sulawesi, "sisa tanah yang sangat purba, yang telah banyak mengalami revolusi yang beragam; keberadaan bentuk-bentuk purbakala yang dikandungnya harus diperhitungkan…"

 

BBC
Teori migrasi Homo Sapiens Asia-Indonesia berdasarkan temuan artefak dan rock art

 

Tiga jam berlalu. Setelah mendaki, turun ke lembah, dan menembus sebuah gua, akhirnya kami sampai di sebuah desa. Desa yang ditempati kurang dari 20 keluarga ini dikelilingi perbukitan karst seperti dalam wadah mangkuk.

Warga di desa ini umumnya beprofesi sebagai petani. Mereka menjual hasil pertanian ke kota dengan berjalan kaki naik-turun bukit.

 

BBC
Di kawasan Leang Tedongnge terdapat perkampungan kecil. Masyarakat setempat kini diajak untuk merawat peninggalan bersejarah berupa lukisan cadas di dalam gua.

 

Dari perkampungan ini, Leang Tedongnge berjarak sekitar 300 meter. Letaknya berada di salah satu kaki bukit karst.

BBC News Indonesia ditemani langsung oleh salah satu anggota tim yang menemukan lukisan purba di Leang Tedongnge, Basran Burhan, arkeolog sekaligus mahasiswa Griffith University, Australia.

Kata dia, "Leang" dalam bahasa Bugis-Makassar artinya "gua", dan "Tedong" bermakna "kerbau".

"Jadi tempat ini dulunya sering dipakai untuk menjadi kandang kerbau untuk sementara ketika musim hujan. Dari situ, masyarakat mengenali gua ini sebagai Leang Tedongnge," kata Basran, seraya menambahkan penampungan ternak di dalam gua sudah dilarang karena gua telah menjadi cagar budaya.

 

BBC
Lukisan purba berusia puluhan ribu tahun, dua ekor babi sulawesi yang sebagian besar sudah terkelupas

 

Lukisan purba itu berada sekitar 50 meter dari mulut gua. Namun baru 20 meter melangkah, ruang sudah gelap gulita, sehingga dibutuhkan pencahayaan yang kuat agar pandangan mata menjangkau seluruh ruangan, termasuk melihat kilauan air yang menetes dari stalakmit di langit-langit gua.

Selain itu, perlu kehati-hatian untuk mencapai lukisan ini karena pijakan gua yang berongga-rongga. Anda juga akan dihadapkan dengan stalaktit yang membuat terasa berada di tengah bidak-bidak catur raksasa.

Satu gambar babi sulawesi berukuran 1 meter lebih masih terlihat jelas pada lengkungan dinding gua, dilukis menggunakan pigmen merah serupa oker dengan cetakan dua tangan manusia di bagian punggungnya. Sementara dua gambar babi lainnya, sudah mulai terkelupas dimakan usia.

 

BBC
Mulut Leang Bulu Sipong 4 di Sulawesi Selatan

 

Sebelumnya, Basran bersama timnya menemukan lukisan purba di Leang Tedongnge pada 2017. Tahun berikutnya lukisan tersebut diteliti, termasuk diambil sampel untuk diketahui usianya. Pada Januari 2021, penelitian ini diterbitkan dalam jurnal Science Advance.

Lukisan tiga babi sulawesi ini ditaksir berusia lebih dari 45.500 tahun, sejauh ini diyakini sebagai lukisan cadas bergambar hewan tertua dunia.

Menurut Basran, yang ikut menulis dalam jurnal tersebut, gambar babi ini dilukis menggunakan "kuas yang dicelupkan ke pigmen, kemudian dioleskan ke dinding gua" atau bisa juga "langsung menggunakan jari".

 

M. Kottermair dan A. Jalandoni/Science Advances
Peta Maros-Pangkep

 

"Gambar itu seolah-olah ingin menunjukkan bahwa, binatang itu sedang melakukan pergerakan… Manusia penggambarnya bisa membuat sebuah lukisan yang cukup imajinatif di 45.000 tahun yang lalu, itu sungguh luar biasa," kata Basran.

 

Bukti ledakan kognitif manusia modern di Indonesia

 

 

Lihat artikel asli
Topik Terkait
Saksikan Juga
Terpopuler