Vaksinasi Anak 5 Tahun ke Atas Ditargetkan 2022, Lansia Dapat Booster

Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin saat meninjau vaksinasi orang dengan gangguan jiwa (ODGJ) di Rumah Sakit Marzoeki Mahdi (RSMM), Kota Bogor, Jawa Barat, Selasa, 1 Juni 2021.
Sumber :
  • VIVA/Muhammad AR

VIVA – Kementerian Kesehatan akan memberikan vaksin tambahan atau booster COVID-19 terhadap kalangan masyarakat berisiko tinggi dan yang mengalami defisiensi imunitas pada 2022.

Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin mengatakan, saat ini pemberian booster tersebut sedang dikaji oleh lembaga-lembaga penelitian dan ITAGI. Untuk melihat kombinasi vaksin terbaik.

"Antara Sinovac-Sinovac booster-nya Sinovac, atau Sinovac-Sinovac Astrazeneca, atau Sinovac-Sinovac dengan Pfizer, demikian juga Astrazeneca-Astrazaneca yang ketiganya Sinovac atau Pfizer," kata dia saat konferensi pers, Selasa, 26 Oktober 2021.

Penelitian kombinasi penggunaan vaksin untuk booster ini dikatakannya ditargetkan bisa rampung pada akhir 2021, sehingga pada 2022 bisa diberikan kepada target penerima.

"Nah itu penelitiannya sedang berjalan, diharapkan akhir tahun bisa selesai sehingga diharapkan bisa menjadi basis dalam kita mengambil kebijakan untuk ke depannya. Sama dengan negara lain yang sudah melakukan suntikan booster, ada 7 negara," tuturnya.

Budi menjelaskan, untuk target kalangan masyarakat yang berisiko tinggi adalah para tenaga kesehatan serta masyarakat yang telah memasuki masa lanjut usia (lansia).

Vaksinasi COVID-19 untuk pelajar. (Foto ilustrasi)

Photo :
  • Istimewa

Sementara itu, untuk kalangan masyarakat yang termasuk ke dalam defisiensi imunitas atau imunitasnya terganggu adalah masyarakat yang terkena HIV atau Kanker.

Selain pemberian vaksin booster, Budi mengungkapkan bahwa pada tahun depan juga Pemerintah sedang mempersiapkan pemberian vaksin untuk anak-anak.

Adapun jenis vaksin-vaksin COVID-19 yang telah memasuki tahap uji klinis untuk bisa digunakan anak-anak adalah Sinovac, Sinopharm dan Pfizer.

"Diharapkan sampai dengan akhir tahun bisa keluar hasil ketiganya untuk emergency use authorization-nya," papar dia.

Budi memastikan, Pemerintah juga telah menjalin kerja sama dengan Badan Pengawas Obat dan Makanan untuk memastikan bahwa vaksin untuk anak usia 5-11 tahun ini aman.

"Untuk memastikan kita bisa mengeluarkan sesegera mungkin sesudah di negara asalnya ketiga vaksin tersebut bisa digunakan untuk anak-anak usia 5-11 tahun. Rencananya kalau itu sudah keluar hasil uji klinisnya kita bisa gunakan di awal tahun depan," tegas Budi.