AMSI Kembangkan Jurnalisme Pre-Bunking agar Publik Kebal Hoaks

Sejumlah jurnalis dari Jakarta dan sekitarnya dan Kalimantan mengikuti pelatihan "Training Pre-bunking untuk Tingkatkan Kapabilitas Tim Cek Fakta Anggotanya" oleh Asosiasi Media Siber Indonesia (AMSI) di Jakarta, Selasa-Kamis, 1-3 November 2022.
Sumber :
  • AMSI

VIVA Nasional – Sebelum membuat berita bahaya hoaks dan bagaimana menggugah partisipasi publik dalam pencegahan dan kebal berita hoaks, wartawan atau jurnalis harus terlebih dahulu belajar dan memahami jurnalisme pre-bunking, yakni serangkaian tindakan proaktif sebelum berita hoaks menyebar di masyarakat. 

“Ibarat vaksinasi, jurnalis perlu memvaksin diri terlebih dulu, sebelum memberi vaksin kepada publik. Dengan cara itu, barulah bisa tercapai masyarakat yang kebal terhadap hoaks,” ujar Wakil Ketua AMSI Irfan Junaedi dalam Pelatihan Pre-Bunking untuk jurnalis media anggota Asosiasi Media Siber Indonesia (AMSI) Wilayah DKI Jakarta, Kalimantan Timur, Kalimantan Tengah, dan Kalimantan Barat, di Jakarta, Selasa, 1 November 2022.

Irfan menyebut Pelatihan Pre-Bunking ini sangat penting karena Indonesia menggelar pemilu serentak pada tahun 2024. Pemilu itu akan diikuti banyak pemilih muda. Anak muda yang kebiasannya memakai medsos untuk mendapatkan berita dan informasi.

Sejumlah jurnalis dari Jakarta dan sekitarnya dan Kalimantan mengikuti pelatihan

Photo :
  • AMSI

“Kalau kemudian yang dikonsumsi anak-anak muda ini adalah berita hoaks, kan sangat berbahaya. Bisa menganggu keberlangsungan pemilu dan bahkan gesekan sosial. Ini tidak boleh kita biarkan. Jadi media harus mengisi ruang-ruang di medsos dengan berita yang terverifikasi. Karena itulah kita perlu belajar pre-bunking: terinternalisasi dulu ya, sebelum nulis soal bahaya hoaks,” ujar Irfan.

Koordinator AMSI Wilayah DKI Jakarta, Jawa Barat, dan Kalimantan Ronny Kusuma mengingatkan media tak boleh lagi sungkan mengambil peran lebih besar dan lebih masif di ruang-ruang medsos demi mencegah merebaknya hoaks, terutama dalam tahun-tahun politik menjelang pemilu.

Sebab, katanya, "faktanya, sekarang orang mendapat informasi pertama dari medsos; karena itu, jurnalisme cek fakta harus mengisi ruang-ruang itu. Kita sebar konten-konten sehat di sana sebelum terjadi hoaks.”

Ilustrasi internet hoax.

Photo :
  • U-Report

Strategi baru

Pelatihan Jurnalisme Pre-Bunking digelar di Jakarta pada 1-3 November 2022. Pelatihan yang diikuti oleh 21 jurnalis dari 21 media ini menjadi pelatihan kedua, dari lima seri pelatihan serupa yang digelar oleh AMSI.

Peserta dilatih teori pre-bunking dan bagaimana memanfaatkan banyak tools untuk melakukan verifikasi sebuah berita atau informasi. Juga memproduksi dan mendistribusikannya ke media sosial.

“Dulu, ibaratnya, kita seperti pemadam kebakaran. Berita hoaks sudah menyebar, dipercaya masyarakat, dan mungkin sudah membawa akibat kerusakan. Barulah kita luruskan dan memuat penyanggahan--de-bunking. Hasilnya dianggap kurang efektif. Makanya, sekarang kita perlu strategi baru, Jurnalisme Pre-Bunking, [untuk] mencegah,” kata Direktur Eksekutif AMSI Adi Prasetya yang mensupervisi selama pelatihan berlangsung.

Pelatihan Pre-Bunking menjadi strategi baru yang dikembangkan koalisi Cekfakta.com, yang terdiri dari AMSI, AJI, dan MAFINDO, dengan mendapat dukungan penuh oleh Google News Initiative. Dulu metodenya hanya de-bunking, alias jurnalisme periksa fakta untuk penyanggahan atau penjelasan terhadap berita hoaks, mis/disinformasi yang telanjur sudah beredar di masyarakat.

Pada pelatihan di Jakarta, AMSI menghadirkan trainer dan fact checker Nurfahmi Budi (KLY Group), Marashak Edho Sinaga (Jubi.com), dan Andre Yulis (Tempo). Sebelumnya, pelatihan serupa telah digelar di Manado, Sulawesi Utara.

Menyusul pelatihan serupa akan digelar di Bandung, Jawa Barat, Daerah Istimewa Yogyakarta, dan terakhir di kota Batam pada pertengahan November 2022.