Jelang Muktamar, Kiai Kafabihi Mahrus Dinilai Tepat Pimpin PBNU

KH Imam Jazuli
Sumber :
  • Dok. Istimewa

Jakarta, VIVA – Pengasuh Pesantren Bina Insan Mulia Cirebon, KH Imam Jazuli menyampaikan, mandat kepemimpinan Nahdlatul Ulama (NU) terletak di Syuriyah sebagai lembaga tertinggi dan pengendali NU seutuhnya. 

Ia mengatakan posisi Rais Aam tak hanya sekadar jabatan administratif, melainkan manifestasi dari maqam (kedudukan) spiritual dan intelektual tertinggi.

"Di tengah disrupsi zaman yang kian menderu, menjelang Muktamar ke-35 NU, sosok KH. Kafabihi Mahrus muncul bukan hanya sebagai kandidat, melainkan sebuah kebutuhan sejarah bagi struktur PBNU," kata Kiai Imam dalam keterangan tertulis, Kamis, 5 Februari 2026.

la juga menyebutkan beberapa alasan mengapa pengasuh Pondok Pesantren Lirboyo ini merupakan figur yang kompeten untuk mengemban amanah sebagai Rais Aam di PBNU.

Menurutnya, keabsahan kepemimpinan dalam tradisi pesantren mutlak bersandar pada penguasaan literatur klasik (turats). Kiai Kafabihi adalah representasi murni dari transmisi keilmuan yang tidak terputus (isnad).

"Beliau tidak hanya menghafal teks, tetapi memahami illat (alasan logis) di balik teks tersebut. Kapasitas aliman (berilmu luas) ini menjamin bahwa setiap kebijakan besar PBNU nantinya akan memiliki landasan teologis yang kokoh," ungkapnya.

Kemudian, Kiai Imam menilai, tantangan terbesar pemimpin organisasi besar seperti NU adalah tarikan kepentingan duniawi. Di sinilah atribut Zuhud (kesalehan asketik) Kiai Kafabihi menjadi pembeda. 

la dikenal sebagai pribadi yang selesai dengan dirinya sendiri." Sikap zahidan bukan berarti menjauhi dunia, melainkan tidak membiarkan dunia mengendalikan hatinya.

"Dalam konteks PBNU, ini adalah benteng integritas. Seorang Rais Aam yang zahid akan menjaga marwah organisasi agar tidak terseret dalam pragmatisme politik pendek atau kepentingan transaksional, menjaga NU tetap pada khittah pengabdian umat," ujarnya. 

Memahami NU, kata Kiai Imam, tidak bisa dilepaskan dari memahami pesantren, dan membicarakan pesantren di Indonesia mustahil tanpa menyebut Lirboyo. 

Lirboyo adalah pabrik pencetak ulama. Ribuan alumni yang tersebar di seluruh pelosok negeri merupakan grassroot yang solid. Memilih Kiai Kafabihi berarti menyambungkan kembali kabel struktural PBNU dengan basis kultural paling organik di Indonesia.

"Lirboyo seringkali menjadi titik temu bagi berbagai faksi di NU. Kepemimpinan Kiai Kafabihi akan berfungsi sebagai pemersatu (integrator) yang mampu mencairkan ketegangan antar faksi karena wibawa kediaman (Lirboyo) yang diakui secara universal oleh warga nahdliyin," kata Kiai Imam.