Karhutla Makin Meluas, Kawasan Transmigrasi di Kalimantan Jadi Perhatian Menteri Iftitah

Operasi Darat Penanganan Karhutla.
Sumber :
  • istimewa.

Jakarta, VIVA – Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) masih menjadi ancaman serius di sejumlah wilayah Kalimantan hingga akhir Agustus 2026. Kondisi ini turut menjadi perhatian Kementerian Transmigrasi karena sejumlah kawasan transmigrasi berada di wilayah yang terdampak maupun berpotensi terdampak karhutla.

Berdasarkan data sementara Kementerian Kehutanan, Kalimantan Barat menjadi provinsi dengan luas area terbakar paling besar, yakni mencapai 38.319 hektare. Kebakaran juga terjadi di Kalimantan Selatan seluas 8.019 hektare, Kalimantan Tengah 7.635 hektare, Kalimantan Timur 2.715 hektare, dan Kalimantan Utara 400 hektare.

Dampak karhutla tidak hanya berupa kerusakan lahan, tetapi juga mengganggu aktivitas dan kesehatan masyarakat. Di Sangasanga, Kutai Kartanegara, warga sempat dievakuasi akibat kepulan asap pekat. Lebih dari 66 ribu warga juga teridentifikasi mengalami Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA), sementara jarak pandang di sejumlah wilayah seperti Berau dan Palangkaraya dilaporkan terganggu.

Kawasan Transmigrasi Semanai Terdampak Karhutla

Salah satu kawasan transmigrasi yang mengalami dampak cukup parah berada di Permukiman Transmigrasi Semanai atau Semani/TR 4, Desa Simpang Tiga, Kecamatan Sukadana, Kabupaten Kayong Utara, Kalimantan Barat.

Kebakaran yang meluas sejak pertengahan hingga akhir Juli 2026 tersebut merembet dari lahan kosong dan kebun menuju kawasan permukiman. Sedikitnya lima rumah warga hangus terbakar, termasuk rumah milik Burhanuddin atau Bang Han dan Dedi.

Sejumlah ternak milik warga juga ikut menjadi korban. Beberapa kambing dilaporkan mati setelah terjebak di dalam kandang yang terbakar.

Situasi semakin sulit karena kawasan transmigrasi Semanai berada di lahan gambut. Api dapat bertahan di bawah permukaan tanah sehingga proses pemadaman menjadi lebih sulit meskipun tim telah melakukan penanganan dari permukaan.

Tim gabungan BPBD Kabupaten Kayong Utara bersama Masyarakat Peduli Api (MPA) dan helikopter water bombing telah dikerahkan untuk membantu pemadaman. Di sisi lain, kebakaran di wilayah Parit Bugis, Desa Simpang Tiga, juga menyebabkan pipa induk air bersih mengalami kebocoran akibat terdampak panas dan api.

Kerusakan tersebut membuat pasokan air bersih masyarakat sekitar ikut terganggu di tengah kondisi kabut asap. Otoritas setempat pun mengimbau masyarakat menghentikan aktivitas pembukaan lahan dengan cara membakar untuk mencegah munculnya titik api baru.