Ini Penyebab Harga Batu Akik Tak Rasional

Harga Batu Akik Tak Rasional, Masyarakat Butuh Edukasi
Sumber :
  • Dwi Royanto/Semarang
VIVA co.id - Demam batu akik yang merambah seluruh pelosok Tanah Air membuat harga komoditas batu asli Indonesia itu menjadi sangat mahal. Sejumlah pemerhati menilai penjualan batu akik sudah tidak rasional sehingga masyarakat sangat butuh edukasi harga.

Menurut Budayawan Semarang, Timur Sinar Suprabana, euforia masyarakat pada batu akik akhir-akhir ini banyak dimanfaatkan oleh golongan tertentu. Utamanya para pengepul bahan yang sengaja membuat standardisasi harga yang tidak rasional.

"Harapan saya, dengan event-event (kegiatan) pameran yang kerap dilakukan, muncul edukasi soal harga. Karena harga yang diberikan tidak rasional," kata Timur kepada
VIVA co.id
di sela pameran batu akik di Semarang, Jawa Tengah, Rabu, 25 Februari 2015.


Mekanisme pasar soal batu akik kini, kata dia, belum bisa mengedukasi masyarakat. Padahal batu akik adalah barang yang bisa ditentukan standar harganya. Sebagai contoh, batu berjenis bacan yang sekarang menjadi perbincangan di media sosial maupun pasaran batu akik di Indonesia.


"Persoalannya soal sacan, ada aspek manipulasi antarpedagang, agar laku. Manipulasi harga itu dibumbui dengan rumor politik, seperti cerita Presiden Jokowi soal batu akik," kata pegiat batu akik sejak tahun 1985 itu.


Menurutnya, harga tidak rasional batu akik di pasaran mencapai angka di atas Rp12 juta sampai ratusan juta, terutama batu akik jenis bacan yang menjadi buruan sekarang. Dia menyebut masyarakat telah diarahkan untuk mengiyakan bahwa batu akik jenis itu menjadi batu yang teramat mahal.


"Batas Rp12 juta sudah tidak lagi rasional. Apalagi itu batu kembarannya banyak. Maka harus lihat kualitas batunya. Jangan sampai publik terperdaya. Ini disesatkan oleh para pengepul bahan," katanya.


Timur menjelaskan, batu akik bisa bernilai mahal jika memiliki unsur spesifikasi yang jelas. Pertama, orang harus tahu nama geologi dari jenis batuan yang ada. Tidak semua batu asal daerah yang berbeda memiliki sebutan yang sama.


"Seperti batu bacan sendiri, kan, nama daerah. Tapi saat ini orang-orang banyak mengatasnamakan batu bacan semau mereka,” dia menambahkan.


Kedua, masyarakat juga harus tahu sebutan nama dagang untuk jenis batu akik. Terakhir, harus memenuhi syarat tuah. Tuah ditentukan motif atau corak. Biasanya corak akan meningkatkan harga jual bagi orang tertentu.


"Semoga saja, pameran batu akik akan muncul rasionalisasi harga sehingga orang-orang baru bisa memiliki batu akik dengan harga murah dan rasional," katanya. (ren)



Baca berita lain: