Belajar Revolusi Mental dari Sutan Takdir Alisjahbana

Diskusi Revolusi Mental STA di UNAS, Jakarta, Sabtu (25/4).
Sumber :
  • FOTO: VIVa.co.id/Agus Tri Haryanto
VIVA.co.id
- Kondisi masyarakat Indonesia saat ini sedang mengalami krisis kebudayaan, terlebih dengan masuknya globalisasi dan teknologi. Akibatnya, integritas kemanusiaan dan wawasan kebangsaan semakin 'longsor'.


Sebenarnya integritas tersebut dapat dibangun kembali melalui revolusi mental dan kehidupan berbangsa.


Bicara revolusi mental dan kehidupan berbangsa, ternyata sudah diperkenalkan sejak tiga dasawarsa lalu, melalui pemikiran Sutan Takdir Alisjahbana (STA), seorang pujangga yang juga merupakan salah seorang pendiri Universitas Nasional (UNAS).


Untuk itu, Universitas Nasional pun menyelenggarakan diskusi publik bertema 'Revolusi Mental Sutan Takdir Alisjahbana Menuju Manusia Indonesia Progresif'.


Firdaus Syam selaku Ketua Panitia Diskusi Publik Revolusi Mental STA mengatakan, diskusi publik ini menjadi sangat relevan di tengah-tengah pluralisasi dan persoalan domestikasi bangsa, disorientasi nilai, dan disharmonisasi sosial.


"Itu membutuhkan suatu pemikiran-pemikiran jenius dan brilian yang bisa menjawab persoalan ini. Pemikiran-pemikiran ini bisa kita dapatkan dari pemikiran Sutan Takdir Alisjahbana (STA)," ujar Firdaus di Aula Universitas Nasional, Jakarta, Sabtu, 25 April 2015.


Pengamat Politik yang juga dosen serta Alumni Universitas Nasional, Alfan Alfian, mengungkapkan STA sangat konsen dalam peningkatan kualitas Sumber Daya Manusia bangsa. STA, disampaikannya, mengajak untuk terus berpikir, menggali, dan mengambil nilai-nilai positif barat, seperti intelektualitas dan gairah untuk mengejar materi, tapi dalam arti positif.

Kemudian, lanjutnya, nilai egoisme dalam arti memiliki semangat daya kompetisi yang tinggi, dan dapat diartikan jika nilai-nilai barat adalah nilai-nilai yang progresif yang mestinya secara positif dapat kita contoh.


Dalam diskusi ini, dihadiri oleh sejumlah tokoh nasional, seperti Presiden Republik Indonesia ke-6 Susilo Bambang Yudhoyono, Menteri PAN-RB Yuddy Chrisnandi, Taufik Abdullah (LIPI), Sapardi Djoko Darmono (UI), dan Tamalia Alisjahbana.