Guru-Pelajar Kutai Kartanegara Diimingi Beasiswa ke Inggris

Guru dan Pelajar di Kutai Kartanegara Diimingi Beasiswa ke Inggris
Sumber :
  • Asho A. Marmin/Kutai Kartanegara
VIVA.co.id
- Para guru dan pelajar berprestasi di Kabupaten Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur, diiming-imingi beasiswa studi di kampus terkemuka di Inggris, yakni Universitas Cambridge.


Pemerintah Kabupaten (Pemkab) telah menandatangani kerja sama dengan Universitas Cambridge untuk program beasiswa itu. Pemkab pun menyiapkan anggaran Rp25 miliar yang dialokasikan dala Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) setempat.


Menurut Bupati Rita Widyasari, program beasiswa untuk pembelajaran bagi guru dan pelajar berprestasi itu dicanangkan tahun ini hingga lima tahun mendatang. Pada tahap awal, Pemkab akan melakukan pembelajaran bahasa Inggris bagi 800 guru dan 13.800 siswa SMP dan SMA.


“Target kami, setiap tahun ada guru dan siswa yang berprestasi dan bisa menempuh pendidikan di Cambridge. Setidaknya ada lima guru dan lima siswa setiap tahun. Semua dibiayai APBD yang kami alokasikan Rp5 miliar tiap tahun,” kata Bupati pada acara pencanangan penerapan program Cambridge English di Kutai Kartanegara, Rabu, 17 Juni 2015.


Dia menjelaskan, sebelum kerja sama disepakati, Universitas Cambridge sudah melakukan survei awal. Survei untuk mengetahui kebutuhan pendidikan dan gambaran mengenai kemampuan para guru dan siswa di wilayah Kutai Kartanegara.  Selanjutnya, Cambridge melakukan program dan metode pengajaran kepada para guru.

Program itu dibuat, kata Bupati, demi meningkatkan kualitas sumber daya manusia melalui peningkatan kemampuan warga dalam berbahasa Inggris. Soalnya Kutai Kartanegara sudah menjadi daerah tujuan investasi yang dilirik para investor asing.


“Saya tidak mau masyarakat Kukar hanya menjadi penonton. Masa depan Kukar bergantung pada kualitas sumber daya manusianya, bukan hanya sumber daya alam saja karena akan habis. Jika sumber daya alam tidak ada, saya khawatir Kukar akan tertinggal,” katanya.


Bupati juga menginginkan bahasa Inggris menjadi bahasa kedua, sebagaimana yang berlaku di negara tetangga, seperti Malaysia dan Singapura. “Saya mau bahasa Inggris tidak menjadi bahasa asing tetapi menjadi bahasa kedua. Harapannya masyarakat siap untuk bergaul dan bekerja sama dengan dunia,” ujarnya.


Bahasa asing


Direktur Asean pada Cambridge University Press, Govinda, mengatakan bahwa lingkungan pergaulan manusia tidak lagi dibatasi pada regional tertentu.


“Jejaring pertemanan, relasi, bisnis, dan perekonomian sudah meluas. Dengan kondisi demikian, penguasaan bahasa asing, khususnya bahasa Inggris, mutlak diperlukan,” katanya pada kesempatan yang sama.


Menurutnya, Cambridge memilih bekerja sama dengan Pemkab Kutai Kartanegara karena daerah itu memiliki kekayaan alam dan budaya. “Sehingga diperlukan kesiapan sumber daya manusia agar bisa menjadi tuan rumah dalam kegiatan-kegiatan internasional. Individu yang menguasai bahasa inggris secara efektif akan mampu bersaing ke level yang lebih tinggi dan bidang yang lebih laus,” katanya.


Duta Besar Inggris untuk Indonesia, Moazzam Malik, mengaku sangat mengapresiasi kerja sama itu. “Melalui program Cambridge English ini, Kutai Kartanegara sudah menembus batas karena menjadi daerah pertama yang mampu berkolaborasi dengan program unggulan,” katanya.


Penerapan program yang terarah itu, katanya, pasti dapat memicu lahirnya lebih banyak lagi generasi bangsa untuk Indonesia di masa depan. “Dengan program unggulan ini, saya percaya Indonesia mampu bersaing dengan negara lain,” tutupnya.


Laporan: Asho A Marmin/Kutai Kartanegara