Menguak Kehidupan Sosial Penduduk Majapahit

Replika rumah penduduk Majapahit.
Sumber :
  • VIVA.co.id/ Dody Handoko

VIVA.co.id - Kitab Negarakertagama karangan Empu Prapanca menceritakan kemegahan negeri Majapahit saat Raja Prabu Hayam Wuruk dan Patih Gajah Mada berkuasa. Ketika itu, Majapahit memiliki mata uang sendiri yang bernama gobog.

Gobog merupakan uang logam yang terbuat dari campuran perak, timah hitam, timah putih, dan tembaga. Bentuknya koin dengan lubang di tengahnya. Dalam transaksi perdagangan, selain menggunakan mata uang gobog, penduduk Majapahit juga menggunakan uang kepeng dari berbagai dinasti.
 
Selain Negarakertagama terdapat juga cerita dari Ma Huan. Ia adalah salah satu sekretaris Laksamana Zheng He atau Cheng Ho selama melakukan ekspedisi laut.

Selama dalam perjalanan, Ma Huan membuat catatan-catatan detail mengenai negeri-negeri, bangsa-bangsa, dan budaya-budaya yang dilewati oleh rombongan Laksamana Zheng He. Tulisan dibukukan dengan judul Ying-yai Sheng lan atau Pengamatan Pantai-Pantai Samudera.
 
Di dalam buku tersebut, Ma Huan menulis tentang keadaan pulau Jawa, terutama Jawa Timur, Majapahit. Ia menyebutkan bahwa negeri Chao-wa atau Jawa ini memiliki empat kota besar. Tidak satu pun di antaranya yang dikelilingi oleh benteng maupun memiliki wilayah perluasan-permukiman di sekeliling kota tersebut.

Ma Huan berkunjung ke Majapahit dalam masa akhir pemerintahan Hayam Wuruk. Ia menuliskan bahwa di Majapahit udaranya terus menerus panas, seperti musim panas di Cina, panen padi dua kali setahun, padinya kecil-kecil, berasnya berwarna putih.

Di sana juga ada buah jarak dan karapodang (kuning), tetapi tidak ada tanaman gandum. Kerajaan itu menghasilkan kayu sepang, kayu cendana, intan, besi, buah pala, cabe merah panjang, tempurung penyu baik yang masih mentah ataupun yang sudah dimasak.

Burungnya aneh-aneh, ada nun sebesar ayam dengan aneka wama merah, hijau dan sebagainya. Beo yang dapat diajari berbicara seperti orang, kakaktua, merak dan lainnya lagi. Hewan yang mengagumkan adalah kijang dan kera putih, ternaknya adalah babi, kambing, sapi, kuda, ayam, itik, keledai dan angsa.

Buah-buahannya adalah bermacam-macam pisang, kelapa, tebu, delima, manggis, langsap, semangka dan sebagainya. Bunga penting adalah teratai.

Ma Huan memberitakan bahwa ibukota Majapahit berpenduduk sekitar 200-300 keluarga. Penduduknya telah memakai kain dan baju. Kaum lelaki berambut panjang yang diuraikan, sedangkan perempuannya bersanggul.

Setiap laki-laki, mulai dari yang berumur tiga tahun ke atas, baik orang berada atau orang kebanyakan, mengenakan keris dengan pegangannya yang diukir indah-indah dan terbuat dan emas, cula badak, atau gading. Apabila bertengkar, mereka dengan cepat menyiapkan kerisnya. Pantangan bagi penduduk Jawa adalah memegang kepala orang lain karena merupakan penghinaan yang akan menimbulkan perkelahian berdarah.
 
"Menurut cerita lesan warga Trowulan, masyarakat Majapahit waktu itu jika duduk di rumahnya tidak menggunakan bangku, tidur tanpa ranjang dan makan tanpa memakai sumpit. Baik laki-laki atau pun perempuan senang memakan sirih sepanjang hari. Jika ada tamu yang datang disuguhkan bukannya teh, melainkan sirih dan pinang," ujar budayawan Trowulan, Dimas Cokro Pamungkas.

Jika bulan terang terutama purnama, mereka senang bermain bersama disertai nyanyian bergiliran antara kelompok-kelompok laki-laki dan perempuan. Kesenian yang populer adalah bentuk cerita Wayang Beber, yaitu kisah wayang yang dilukiskan pada kain yang direntangkan (beber) oleh sang dalang dan menceritakan adegan-adegan yang digambarkan tersebut.