Monyet Bekantan Jadi Maskot Pilkada Kalimantan Selatan

Monyet Bekantan Jadi Maskot Pilkada Kalimantan Selatan
Sumber :
  • Kpu.go.id
VIVA.co.id - Komisi Pemilihan Umum (KPU) Kalimantan Selatan mempunyai cara unik untuk menyemarakkan hajatan pilkada di provinsi itu. Komisi membikin maskot atau semacam lambang yang digunakan sebagai pengingat pesta demokrasi di daerah itu.

Maskot itu dinamai "Pak Antan". Dirancang menyerupai monyet bekantan yang bercirikan hidung panjang dan besar. Monyet itu adalah satwa langka dengan habitat utama di Kalimantan Selatan.

Pak Antan didesain sedemikian rupa layaknya maskot Piala Dunia atau gelaran Olimpiade. Si bekantan mengenakan peci hitam dan sasirangan, kain adat suku Banjar. Perpaduan fauna langka dan busana tradisional itu diklaim sebagai cerminan kekayaan budaya daerah Kalimantan Selatan.

Bekantan atau dalam nama ilmiahnya Nasalis larvatus adalah sejenis monyet berhidung panjang dengan rambut berwarna coklat kemerahan dan merupakan satu dari dua spesies dalam genus tunggal monyet Nasalis.

Ciri-ciri utama yang membedakan bekantan dari monyet lain adalah hidung panjang dan besar yang hanya ditemukan di spesies jantan. Karena hidungnya itulah, bekantan dikenal juga sebagai monyet Belanda. Dalam bahasa Brunei disebut bangkatan.

Berdasarkan hilangnya habitat hutan dan penangkapan liar yang terus berlanjut, serta keterbatasan daerah dan populasi habitatnya, bekantan dievaluasikan sebagai terancam punah.

Filosofi

Ketua KPU Kalimantan Selatan, Samahudin Muhharam, menjelaskan bahwa maskot itu bukan sembarang maskot, tak asal dibikin, melainkan ada makna filosofis mendalam.

Maskot Pak Antan untuk melestarikan demokrasi di daerah itu, selain sebagai bahan sosialisasi untuk meningkatkan partisipasi masyarakat dalam penyelenggaraan pilkada tahun 2015.

“Dinamika demokrasi di Kalsel tidak pernah habis akan calon-calon pemimpin masa depan. Kami mengambil maskot ini, semoga bekantan tidak punah seperti demokrasi di Kalsel. Filosofinya seperti itu kira-kira,” kata Samahuddin di Banjarmasin, seperti dikutip dari laman resmi Kpu.go.id pada Jumat, 28 Agustus 2015.

Selain maskot, KPU Kalimantan Selatan juga menyosialisasikan slogan Manang kada baampik, kalah kada manampik, yang berarti menang tidak bertepuk tangan, kalah tidak saling menyalahkan. Slogan itu diharapkan menjadi pengingat demi menciptakan suasana yang kondusif dalam perhelatan pilkada serentak.

Delapan daerah

Pilkada Provinsi Kalimantan Selatan diikuti tiga pasang calon gubernur dan wakil gubernur. Antara lain, Muhidin-Gusti Farid Hasan Aman dari jalur independen, Sahbirin-Rudy Resnawan serta Zairullah Azhar-A Sapi’i.

Selain itu, ada tujuh kota/kabupaten di provinsi tersebut yang menggelar pilkada secara bersamaan pada tahun ini. Antara lain, Kabupaten Banjar, Kabupaten Kotabaru, Kota Banjarbaru, Kota Banjarmasin, Kabupaten Balangan, Kabupaten Hulu Sungai Tengah, dan Kabupaten Tanah Bumbu.

Wakil Kepala Polda Kalimantan Selatan, Komisaris Besar Polisi Faturahman, mengingatkan kepada seluruh peserta pilkada dan pemangku kebijakan agar sungguh-sungguh mematuhi peraturan dan perundangan. Menjaga keamanan dan ketertiban demi pilkada yang demokratis dan damai adalah tanggung jawab semua pihak.

“Ini (situasi aman dan damai) tentu menjadi tanggung jawab seluruh stakeholder dan masyarakat untuk mewujudkanya. Ikrar kampanye damai dapat digunakan untuk meningkatkan kesadaran seluruh masyarakat akan pentingnya kedamaian dan keamanan,” kata Faturahman.

Polda Kalsel berkomitmen menjaga netralitas dan siap menjalankan tugas untuk mengamankan pilkada dengan operasi Mantap Praja Tahun 2015.

“Kami telah siap melibatkan 5.368 personel Polri, 730 personel dari TNI, dan 17.458 personel dari unsur  perlindungan masyarakat, serta potensi keamanan seperti Basarnas dan lainnya. Segala potensi tersebut telah dilatih, sehingga memiliki kesiapan mental, taktik dan teknis untuk mengamankan pilkada 2015,” ujar Faturahman. (ase)