Ini Komitmen Jokowi untuk Masyarakat Difabel

Menpora Imam Nahrawi.
Sumber :
  • Dokumentasi Kemenpora.
VIVA.co.id - Pemerintah Indonesia berkomitmen untuk memberikan perhatian lebih bagi kalangan difabel. Karena itu, masyarakat yang memiliki keterbatasan ini, salah satunya tuna rungu tidak akan tertinggal dari program-program sosial pemerintah. 

Tidak hanya itu, Menteri Pemuda dan Olahraga, Imam Nahrawi, menegaskan, Presiden Joko Widodo berjanji akan membuka lapangan kerja untuk masyarakat yang memiliki kekurangan fisik. Salah satunya mengarahkan dunia usaha untuk membuat pabrik khusus untuk pekerja difabel. 

"Di Kemenpora, saya juga sudah menginstruksikan kepada pejabat terkait untuk membuatkan program yang melibatkan teman-teman kalangan tuna rungu," kata Imam dalam keterangan pers yang diterima VIVA.co.id, Minggu 8 November 2015. 
 
Ketika membuka acara Deaf International Indonesia 2015, dia juga menegaskan, kalangan difabel dipastikan berkesempatan yang sama untuk eksis, seperti masyarakat yang tidak memiliki kekurangan fisik lainnya. Dalam melakukan hal-hal kreatif dan inovatif, bahkan bisa turut mengharumkan nama bangsa di kancah internasional.

"Di olahraga, ada ajang antar atlet difabel mulai level nasional hingga dunia. Pada ajang-ajang tersebut, olahragawan difabel Indonesia bisa berprestasi di tingkat ASEAN, Asia, dan dunia. Ini tentu membanggakan,” tutur Cak Imam, sapaan akrab menpora.

Bahkan, kata dia, sebagai bentuk komitmen pemerintah terhadap kalangan difabel, mulai ASEAN Para Games 2015, bonus yang diberikan untuk atlet peraih medali di Para Games, akan disamakan dengan bonus atlet normal yang berlaga di SEA Games. 

"Sebelumnya, bonus atlet difabel berbeda dari atlet normal. Kebijakan saya akan disamakan. Karena itu, kami juga amat sangat menghargai apabila teman-teman tuna rungu terlibat dalam program di Kemenpora," tuturnya. 

Sebagai informasi, acara yang digelar di Jakarta hingga 9 November mendatang tersebut diikuti perwakilan tuna rungu dari 45 kota di Indonesia dan perwakilan dari 20 negara. Mayoritas peserta nasional adalah pemuda karena umurnya di bawah 30 tahun. 

Pertemuan ini untuk menghimpun kebersamaan sekaligus sharing mengenai sejauhmana program pemberdayaan bagi kalangan tuna rungu dilakukan di setiap daerah dan setiap negara. 
 
Wakil Pospera Deaf of Indonesia, Novita Fitri, menambahkan, selain untuk bersilaturahmi, acara ini untuk meningkatkan semangat penyandang tuna rungu agar tetap dapat maju di bidang apa pun. Pada acara ini, para perwakilan tiap negara juga akan memperkenalkan budayanya masing-masing.