Kurikulum Bela Negara Akan Diterapkan Sejak Usia Dini

Upacara Penutupan Pendidikan Bela Negara
Sumber :
  • VIVAnews/Ikhwan Yanuar

VIVA.co.id - Kepala Badan Diklat Kementerian Pertahanan Mayjen TNI Hartind Asrin menjelaskan, kurikulum untuk pendidikan bela negara yang akan diterapkan di seluruh institusi pendidikan, terbagi dalam tiga hal dasar. Tiga hal dasar itu adalah, bidang studi dasar, intelijen dasar, dan studi tambahan.

Menurut dia, saat ini kurikulum tersebut sedang digodok, dan sudah mencapai tahap 90 persen. Rencananya, pada Desember, kurikulum tersebut akan diselesaikan.

Pertama, soal bidang studi dasar. Hartind mengatakan, kurikulum ini akan mengajarkan bagaimana menjadikan anak didik mengerti tentang wawasan kebangsaan, bagaimana sistem dan bentuk ketahanan semesta, serta tentang kepemimpinan. Akan tetapi, memang materi tersebut tergantung pada level anak didik untuk bisa diterapkan.

"Kurikulum bela negara yang kami susun sudah mendekati 90 persen. Masukan masyarakat kan menjadikan ini final, menjadikannya 100 persen. Harapan saya kurikulum ini Desember selesai. Kalau pun nanti ada perkembangan dari stakeholder, kami akan tetap tampung," kata Hartind di kantor Kementerian Pertahanan, Jalan Medan Merdeka Barat, Jakarta Pusat, Jumat 13 November 2015.

Kedua, soal intelijen dasar. Menurut dia, nantinya setiap orang yang mengikuti pembekalan di Pusat Pendidikan dan Pelatihan (Pusdiklat) Bela Negara, diharapkan bisa mengerti bagaimana memaksimalkan pengumpulan informasi.

Pembekalan soal intelijen dasar itu akan diutamakan dari kader bela negara, dan akan dimulai dari jenjang SMA.

"Jadi, ada Bapuket (Badan Pengumpul Keterangan). Ya, memang sebenarnya bukan badan, tapi perorangan. Contoh, di desa-desa itu kan ada tulisan lapor 1x24 jam. Sekarang sudah dingin toh? Nah, kita hangatkan lagi. Bagaimana dia melapor, nanti akan kami ajarkan 5W+1H, bagaimana mengolah informasi. Nanti itu akan kami latih," ungkap dia.

Ketiga, yakni soal bidang studi tambahan, seperti konten lokal. Menurut Hartind, yang termasuk dalam konten lokal tersebut antara lain, cinta Tanah Air, kesadaran berbangsa dan bernegara, rela berkorban, Pancasila sebagai dasar negara, serta memiliki kesempatan berbela negara.

"Lima nilai dasar bela negara itu masuk konten lokal," kata Hartind.

Hartind menambahkan, pendidikan bela negara tersebut akan diprogramkan mulai dari jenjang Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD), hingga masa universitas. Alasannya, anak kecil memiliki memori jangka panjang yang kuat sekali.

Harapannya, itu akan menjadi dasar atau fondasi anak agar bangga dan cinta akan bangsa serta negaranya.

"Metode yang digunakan main-main. Baris-berbaris, tapi yang lucu-lucu. Diajak ke museum, tonton film Sudirman, Bung Karno, yang gembira-gembira saja, tidak serius-serius," papar dia.