Airbus Juga Bersalah pada Jatuhnya AirAsia QZ8501

Badan Pesawat AirAsia Tiba di Jakarta
Sumber :
  • ANTARA FOTO/Zabur Karuru

VIVA.co.id - Hasil investigasi Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) menyebutkan jatuhnya AirAsia dengan nomor penerbangan QZ8501 tujuan Surabaya ke Singapura akibat kendala teknis. Namun ternyata, pabrikan pesawat Perancis itu, Airbus, juga berkontribusi terkait penyebab jatuhnya pesawat nahas ini.

Menurut Kepala Kepala Sub Komite Kecelakaan Udara KNKT, Captain Nurcahyo, memang pesawat jatuh karena kendala teknis yaitu akibat ganguan pada sistem Rudder Travel Limiter Unit (RTLU) atau sistem pengatur navigasi yang berada di ekor pesawat, serta matinya kelistrikan komputer atau Circuit Breaker (CB). Masalah itu memicu turbulensi sehingga pesawat kehilangan daya angkat atau disebut upset condition dan akhirnya jatuh.

Namun, Nurcahyo mengatakan sebenarnya masalah tersebut bisa diatasi jika saja pilot diajarkan oleh Airbus sebagai produsen pesawat. Tapi Airbus rupanya sangat yakin jika pesawat jenis A 320 itu tidak akan terkena upset condition, sehingga AirAsia sebagai operator pesawat juga tidak melatih pilotnya menangani masalah tersebut.

"Ini kelemahan AirAsia, yaitu dalam soal perawatan pesawat dan pelatihan pilot. Pilot tidak dilatih untuk recovery upset condition. Belum diajarkan karena Airbus mengklaim pesawat ini tidak mungkin upset sehingga pelatihan tidak  diperlukan," kata Nurcahyo di Aula KNKT, Jakarta, Selasa 1 Desember 2015.

Oleh sebab itu, KNKT telah mengeluarkan rekomendasi kepada AirAsia agar seluruh pilot dilatih menangani fase-fase kritis. Selain itu, kepada Airbus juga wajib memberikan pelatihan kepada seluruh operator pengguna pesawat agar pilot mempunyai kemampuan menangani upset recovery.

Seperti diketahui, pada 28 Desember 2014, sebuah pesawat Airbus A320 yang dioperasikan PT Indonesia AirAsia dalam penerbangan dari Bandar Udara Juanda Surabaya menuju Bandar Udara Changi Singapura hilang kontak dan akhirnya ditemukan jatuh di Selat Karimata, Kalimantan Tengah.

Di dalam pesawat terdapat 162 orang yang terdiri dari dua pilot, empat awak kabin, dan 156 penumpang termasuk seorang engineer. Tim DVI berhasil mengidentifikasi 115 jenazah korban dari 165 penumpang dan tujuh awak pesawat.