Menggantung Nasib di Tangan Monyet

ilustrasi/Kawanan monyet liar saat swafoto alias selfie.
Sumber :
  • REUTERS / Sukree Sukplang

VIVA.co.id - Bagi sebagian masyarakat di Tapanuli Selatan, Sumatra Utara, menggantungkan urusan hidup di tangan monyet sudah bukan hal yang mengejutkan. Monyet di sini sudah seperti 'tulang punggung' bagi sebagian keluarga. Selama hampir delapan jam sang monyet atau bodat dalam dialek lokal banting tulang bekerja di ladang kelapa.

Karena itu, jangan heran jika di setiap rumah di Tapanuli Selatan, pasti ada si bodat. "Ia (bodat) sudah jadi tulang punggung keluarga," kata Ian Dalimunthe, warga Kecamatan Batang Angkola, Selasa 5 Januari 2015.

Umumnya para bodat memang sudah terlatih untuk memanjat kelapa. Setidaknya butuh waktu tiga bulan sebelum si bodat siap dilepas bekerja.

"Ada pelatihan khusus. Misalnya mengetahui mana kelapa tua yang siap petik, hingga ke teknik melempar agar tidak pecah saat dijatuhkan," kata Dalimunthe.

Pekerjaan sang bodat memang berat. Dengan waktu kerja hingga delapan jam, mereka bisa memanjat hingga puluhan pohon kelapa dan memetik ratusan butir buah.

Sebab itu, guna menjaga kesehatan sang bodat, para pemilik akan menyiapkan menu khusus berupa puding satu gelas susu. "Itu upah si bodat setiap sudah memetik buah kelapa," kata Dalimunthe.

Upah Kelapa

Setiap harinya, berkat sang bodat, Dalimunthe mengaku mampu memenuhi kebutuhan hariannya. Setidaknya hingga kini, ia bisa menyekolahkan anak-anaknya di sekolah negeri.

Upah memetik kelapa di Tapanuli Selatan, tak pernah dibayar dengan uang. Masing-masing pemilik bodat hanya diupah dengan buah kelapa lagi.

Dengan perhitungan, setiap 100 buah kelapa maka pemilik bodat akan diupah 30 butir kelapa. Hasil kumpulan buah kelapa itulah yang kemudian dijual lagi oleh pemilik bodat.

"Setiap hari saya sekurangnya bisa memetik kelapa hingga 150 butir. Jadi saya bisa bawa pulang kelapa hingga 45 butir. Lumayanlah untuk kebutuhan harian," kata Dalimunthe.

Dedi Herianto / Sumatera Utara

(ren)