Gempa Erupsi Bromo Dirasakan Warga

Sumber :
  • D.A. Pitaloka

VIVA.co.id - Gempa letusan akibat erupsi Gunung Bromo menggetarkan kaca di Pos Pengamatan Gunung Api Bromo (PPGA) Ngadisari, Sukapura, Probolinggo, yang berjarak 3 km dari kawah Bromo. PPGA menyebut gempa letusan adalah gempa khas Bromo dan dinilai belum menghawatirkan.

Kepala PPGA Bromo Ahmad Subhan mengatakan gempa letusan adalah tekanan udara yang dikeluarkan oleh gunung sehingga menimbulkan getaran. Gempa letusan merupakan salah satu ciri khas Bromo saat erupsi. Hingga kini status Gunung Bromo masih Siaga.

"Gempa letusan ini seperti ketika kita membuka minuman bersoda, ada semburan gas yang keluar setelah tersumbat namun tanpa disertai dentuman," kata Ahmad Subhan, Minggu 10 Januari 2016.

Getaran yang lemah itu juga hanya bisa dirasakan wara di radius tersebut yang sedang diam dan tidak melakukan aktivitas. "Jika sedang beraktivitas di ladang tentu tidak terasa," katanya.

Setelah terjadi gempa letusan, menurutnya asap yang keluar dari Bromo terlihat lebih pekat. Selain itu sinar merah di sekitar kawah masih teramati samar dari kawah Bromo saat malam. Suara gemuruh samar juga terdengar saat pagi hari. PPGA mencatat lontaran material yang keluar hingga saat ini adalah abu vulkanik.

"Tidak ada yang perlu dikhawatirkan, areal di luar 2,5 km dari kawah masih bisa dikunjungi," katanya.

Pantauan aktivitas Bromo dari Pos Pengamatan Gunung Api (PPGA) Bromo di Ngadisari, Sukapura, Probolinggo, per Minggu 10 Januari 2016 pukul 06:00 wib mencatat terdapat empat kali gempa letusan sejak pukul 00:00 hingga pukul 06:00 pagi ini.

Gempa letusan disusul dengan semburan asap yang lebih pekat dengan ketinggian mencapai 1200 meter di atas kawah Bromo. Gempa letusan terpantau sejak beberapa hari terakhir dengan jumlah bervariasi selama satu hari. Sepanjang Sabtu kemarin, gempa letusan tercatat sebanyak 13 kali. PPGA menyimpulkan status Bromo saat ini tetap siaga.