Gerhana Matahari Menanti Indonesia di 2023 dan 2042

Gerhana Matahari
Sumber :
  • VIVA.co.id/Muhamad Solihin

VIVA.co.id – Peristiwa Gerhana Matahari Total (GMT) yang melintas di sejumlah wilayah Indonesia dari barat ke timur hari ini, Rabu, 9 Maret 2016, menjadi tontonan menarik bagi masyarakat. Antusiasme warga terhadap fenomena alam itu pun dinilai positif, sehingga banyak yang bertanya-tanya, kapan GMT bakal terjadi kembali?

Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN) pun memberikan informasi kalau kejadian serupa akan terulang tujuh tahun lagi. Namun, tidak seperti yang terjadi pagi tadi, gerhana itu nanti hanya bisa dinikmati kawasan Indonesia bagian timur,

"Nanti akan ada GMT lagi tahun 2023. Cakupannya nanti akan terjadi di wilayah Indonesia bagian timur, melintasi Papua," ujar Kepala LAPAN, Thomas Djamaluddin, ketika dihubungi VIVA.co.id, Rabu, 9 Maret 2016.

Sementara, untuk kawasan Indonesia bagian barat, harus menunggu sampai 2042, untuk bisa menikmati kembali pemandangan matahari tertutup bulan.

"Untuk GMT 2042 akan melintasi hanya Sumatera dan Kalimantan," ujar ahli astronomi ini.

Mengenai karakteristik dari GMT 2016 dengan 2023 dan 2042, Thomas menegaskan, setiap gerhana akan memiliki perbedaan. Artinya, gerhana yang terjadi pagi tadi, tidak akan sama dengan dua gerhana mendatang.

"Gerhana mempunyai karakter masing-masing, jalurnya berbeda, lebar, dan lamanya juga. Biasanya (GMT) terjadi tergantung pada konfigurasi matahari, bulan, dan bumi," ucapnya.

Gerhana Terakhir di Indonesia Bukan 1983

Sementara itu, di Sulawesi Utara (Sulut), Tokoh masyarakat Kabupaten Kepulauan Sangihe, Pitres Somobowadile, menyesalkan berita di berbagai media terkait peristiwa GMT. Menurut Pitres, media melupakan sejarah GMT pada 1995 yang terjadi di Kabupaten Kepulauan Sangihe. 

Dari catatan resmi Lapan, saat itu memang ada pengamatan langsung di Ibu Kota Sangihe, Kota Tahuna. Kala itu, Sangihe menjadi satu-satunya wilayah di Indonesia yang dilewati jalur GMT.

“Lapan bikin pengamatan resmi kala itu (1995). Rupanya media-media hanya sekadar merujuk GMT 1983 yang memang kena di seluruh Jawa dan sekitarnya,” katanya kepada VIVA.co.id di Manado.

Pitres pun menceritakan pengalamannya pada 1995. Ketika dia dari Kota Manado datang bersama kedua orangtua dan anaknya untuk melihat GMT di Sangihe. “GMT di Sangihe terjadi sekitar 1 menit 53 detik,” ujar dosen perguruan tinggi swasta di Sulut ini.

Pengakuan serupa juga diungkapkan salah satu wartawan senior di Sulut, Joppy Worek. Dia mengaku menyaksikan langsung GMT di Tahuna pada 1995. 

Saat itu, banyak ilmuwan berkumpul di lapangan depan rumah dinas Bupati Sangihe Talaud. “Saat itu terjadi GMT sekira pukul 13.00 WITA, dan Kota Tahuna dua menit gelap gulita."

(mus)