Polri Didesak Benahi Tes Psikologi Polisi

Ilustrasi/Pistol polisi
Sumber :
  • VIVA.co.id/Ikhwan Yanuar

VIVA.co.id – Penembakan brutal oleh Brigadir Aris terhadap istri sendiri di Bekasi - yang berlanjut pada upaya bunuh diri - kembali menjadi catatan buruk Kepolisian, setelah beberapa waktu lalu terjadi kasus mutilasi oleh aparat Polri di Kalimantan Barat. Ketua Presidium Indonesia Police Watch (IPW), Neta S.Pane, menilai bahwa Korps Bhayangkara harus mengevaluasi serius sistem perekrutan dan tes psikologi calon aparat.

"Berkembangnya kasus ini tak terlepas dari buruknya sistem rekrut masuk polisi khususnya masuk SPN sebab para pelaku umumnya polisi di level bawah," kata Neta kepada VIVA.co.id, Senin 14 Maret 2016.
 
Neta menilai, selain sistem psikotes yang buruk, isu masuk pendidikan Kepolisian dengan memberikan sejumlah uang juga sudah tak lagi rahasia. Alhasil, orang-orang yang bermasalah secara psikologis bisa masuk ke Kepolisian.

"Sehingga saat polisi-polisi itu menghadapi tekanan kejiwaan yang bersangkutan gampang kalap," ujarnya.

IPW mencatat, selama tahun 2016 sudah ada 2 kasus polisi membantai orang dekatnya dan 6 kasus yang menyebabkan 3 tewas.

"Fenomena polisi membantai orang dekatnya sudah berkembang sejak 5 tahun terakhir," kata Neta.

Sebelumnya, Anggota Brimob, Brigadir Aris menembak istrinya hingga tewas. Dugaan sementara Aris nekat menembak lantaran dipicu masalah pribadi. Setelah menembak istrinya, Aris lalu mencoba bunuh diri dan saat ini tengah dirawat di RS Polri.

Kasus tak kalah tragis juga terjadi di Melawi Kalimantan Barat, Februari lalu. Seorang anggota Polres Melawi Brigadir Petrus Bakus membunuh dua anaknya yang masih kecil. Petrus memutilasi 2 anaknya disebut-sebut telah mengalami kelainan jiwa sejak berusia 4 tahun. (ren)