Data Pembanding Korban Longsor Air Terjun Dua Warna Minim

Jenazah korban longsor di Deli Serdang, Sumatera Utara berhasil diidentifikasi, Selasa (17/5/2016)
Sumber :
  • Putra Nasution/ VIVA.co.id

VIVA.co.id – Kepolisian Daerah Sumatera Utara menyayangkan minimnya data ante mortem atau pembanding untuk korban bencana longsor di lokasi wisata Sibolangit.

Kebutuhan itu untuk melengkapi data yang telah didapat tim DVI Polda Sumatera Utara terhadap para korban longsor dan banjir bandang di tersebut. “Kesulitannya adalah kurangnya data ante mortem, khususnya sidik jari yang asli. Makanya, kami sudah mengimbau kepada keluarga korban untuk mencari data-data itu," kata Kepala RS Bhayangkara Medan, Komisaris Besar Polisi Farid Amansyah, Senin malam, 16 Mei 2016.

Sidik jari tersebut, Farid menjelaskan, bisa didapat dari sejumlah dokumen lama milik para korban sebelum longsor dan bandang di . Seperti ijazah asli, kartu tanda penduduk, atau surat izin mengemudi asli. "Kalau sudah ada segera diberikan ke kami agar bisa direkonsiliasikan,” katanya.

Farid mengatakan, saat ini, sejumlah jenazah memang sudah berhasil dikenali keluarga melalui ciri fisiknya. Namun, karena ketiadaan data ante mortem itu, proses identifikasi berupa rekonsiliasi dengan data post mortem belum bisa dilakukan.

“Kami tidak mempersulit. Begitu memang data-datanya ada dan berhasil kami cocokkan, seperti yang satu korban sudah kami pulangkan, pasti kami langsung buatkan berita acara penyerahannya pada keluarga. Kami juga senang kalau lebih cepat direkonsiliasi dan lebih cepat dibawa oleh keluarga,” katanya.

Bencana longsor dan banjir bandang di lokasi wisata terjadi pada Minggu 15 Mei 2016. Akibat kejadian itu, sebanyak 76 orang menjadi korban.

Dari jumlah itu, sebanyak 17 orang dipastikan meninggal dan telah dievakuasi. Sementara itu, empat lainnya masih belum ditemukan. Untuk sisanya dinyatakan selamat dan telah dievakuasi ke pos medis setempat.